Eits! Jangan Salah Ucapkan Talbiyah

Posted by Unknown on Friday, June 8, 2012

Mitra haji dan umrah, seperti kita ketahui bersama, jamaah haji dan umrah tidak bisa lepas dari aktivitas mengucapkan kalimat talbiyah. Hal tersebut disebabkan mengucapkan talbiyah telah disyariatkan bagi para jamaah haji dan umrah. Berikut lafadz kalimat talbiyah.

Labbaika Allahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik, innalhamda wan-nikmata laka wal-mulka laa syariika lak.

Memang, itulah kalimat talbiyah yang disyariatkan untuk diucapkan seluruh jamaah haji ketika menjalankan rukun Islam ke-5 ini di tanah suci. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kalimat talbiyah di atas berarti:

“Kami datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, kami datang memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji dan kebesaran untuk-Mu semata, segenap kerajaan adalah milik-Mu, dan tidak ada sekutu bagimu.”


Wah, tampaknya mudah, ya? Tinggal menghapalkannya dan mengucapkannya saja. Namun, terdapat tata cara mengucapkan kalimat talbiyah, terkait waktu, tempat, dan beberapa hal lainnya yang perlu diperhatikan.

Waktu dan tempat bertalbiyah

Pengucapan kalimat talbiyah dimulai sejak seseorang berniat ihram sampai melempar jumrah Aqabah pada Hari Nahar. Waktu talbiyah tersebut berlaku jika jamaah haji yang bersangkutan berniat ihram untuk haji. Sementara jika jamaah berniat ihram untuk umrah maka waktu talbiyahnya dimulai sejak ihram sampai thawaf. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh sebagian besar fukaha seperti ats Tsawri, Asy Syafi’i, dan Abu Hanafi. Pendapat ini didasarkan pada sebuah hadits riwayat Ahmad di dalam kitabnya, Musnad Ahmad, yang menyebutkan bahwa Nabi saw terus-menerus mengucapkan talbiyah sampai beliau melempar jumrah.

Jika Ahmad dan Ishaq mengatakan bahwa waktu mengucapkan talbiyah dimulai dari ihraam hingga lemparan jumrah yang tiga, Imam Malik berpendapat bahwa waktu talbiyah dimulai dari ihram hingga terbenamnya matahari pada Hari Arafah.

Bagi jamaah haji wanita yang sedang ihram disunnahkan mengucapkan kalimat talbiyah terus-menerus. Dia bisa bertalbiyah dalam keadaan duduk, berdiri, berjalan, di atas kendaraan, bahkan dalam keadaan haid sekali pun. Disunnahkan juga untuk mengucapkan talbiyah saat hendak melakukan sesuatu seperti naik ke atas kendaraan, berkumpul bersama teman-temannya, saat berada di dalam Masjidil haram, Masjid Khayf, dan Namrah. Namun, jamaah haji wanita tidak disunnahkan bertalbiyah pada saat melakukan thawaf qudum, yaitu thawaf selamat datang yang dilakukan sesaat setelah memasuki kota Mekkah, serta saat melakukan sa’i. Selain itu, jamaah haji wanita juga tidak dianjurkan mengucapkan kalimat talbiyah pada saat mengerjakan thawaf ifadhah dan thawaf wada. Hal ini disebabkan waktu untuk bertalbiyah telah habis setelah jamaah haji melempar jumrah Aqabah.

Bolehkan wanita mengucapkan kalimat talbiyah dengan keras?


Dalam Buku Induk Haji & Umrah untuk Wanita, Dr. Ablah Muhammad al Kahlawi menuliskan bahwa terdapat dua pendapat menyikapi perlu keras atau tidaknya jamaah haji wanita saat mengucapkan kalimat talbiyah.

Pertama, para fukaha sepakat bahwa perempuan tidak disunnahkan untuk mengeraskan suara saat bertalbiyah. Jamaah haji wanita hanya boleh mengucapkan talbiyah dengan volume suara yang sekiranya hanya bisa didengarnya sendiri. Pendapat ini dikemukakan oleh Imam Malik, al Awza’i, Atha’, Mu’tazilah, dan Imam Syafi’i; berdasarkan sebuah riwayat dari Ibnu Umar yang berkata, “ Perempuan hendaknya tidak naik melebihi Bukit Shafa dan Marwa dan tidak mengeraskan suaranya saat bertalbiyah.” (HR. Al Baihaqi). Riwayat serupa juga dikeluarkan oleh Ibnu Abbas.

Kedua, fukaha dari mazhab Zhahiriyah (kaum tekstualis), berpendapat bahwa hukum mengeraskan suara saat bertalbiyah adalah wajib, baik bagi jamaah haji pria maupun wanita. Hal ini disebabkan pada masa Nabi saw dan setelahnya, orang-orang bebas mendengarkan perkataan istri-istri beliau. Tidak ada satu pun orang yang melarangnya.

Sementara itu, Dr. Ablah Muhammad al Kahlawi sendiri cenderung pada pendapat pertama. Hal tersebut disebabkan adanya kesesuaian dengan kodrat wanita yang mempunyai rasa malu lebih besar. Di samping itu, merendahkan suara di tengah-tengah laki-laki itu jauh lebih aman bagi diri seorang wanita, yaitu tidak memancing perhatian laki-laki.

Nah, mitra haji dan umrah, demikianlah beberapa hal yang perlu diperhatikan jamaah haji saat mengucapkan talbiyah. Jangan sampai ada yang mengucapkan talbiyah sendiri, padahal waktu bertalbiyah telah habis. Bisa-bisa kita menarik perhatian banyak orang karena mengucapkan talbiyah sendirian, sedangkan jamaah haji lainnya sudah tidak ada lagi yang mengucapkannya.

Kesalahan melakukan ibadah tidak pada waktunya seperti di atas bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, seorang jamaah shalat subuh yang dengan percaya dirinya melakukan shalat sunnah rawatib setelah shalat subuh. Padahal, ada ketentuan yang mengatakan bahwa waktu setelah subuh hingga terbit matahari dan antara waktu ashar dan maghrib merupakan waktu di antara dua tanduk setan. Tidak diperbolehkan shalat di antara kedua waktu tersebut.

Jadi, beribadah tidak cukup bermodalkan niat yang baik dan lurus. Namun, dibutuhkan pula ilmu untuk melakukan amal ibadah yang dimaksud, yaitu pengetahuan tentang tata cara melaksanakan ibadah tersebut. (RA)
Selengkapnya → Eits! Jangan Salah Ucapkan Talbiyah
Posted by: Cheria Wisata

Pahala Pertama di masjid kuba

Posted by Unknown on Sunday, June 3, 2012

- Pahala umrah tidak hanya bisa didapatkan di Masjidil Haram. Di Madinah juga terdapat masjid yang memiliki pahala seperti umrah jika salat dua rakaat di dalamnya. Ya, nama masjid ini adalah Masjid Quba.

salam haji masjid kuba
Jamaah Salamhaji / cheria travel
                                                                                   
Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah saw. pada tahun 1 Hijriyah atau Senin 8 Rabiul Awwal (23 September) 622 Masehi di Quba, sekitar 5 km di sebelah tenggara kota Madinah. Di Madinah, Masjid Quba merupakan salah satu masjid yang sayang sekali untuk dilewatkan. Inilah masjidMpertama yang didirikan Nabi Muhammad SAW. Rasulullah saw yang mendesain masjid ini, bahkan ikut pula memikul batu bata dalam proses pembangunannya.Alquran surat At-taubah 108 mencatat bahwa Masjid Quba didirikan atas dasar takwa. “Sesungguhnya masjid itu yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut bagimu (Hai Muhammad) bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya terdapat orang-orang yang ingin membersihkan diri”. (Surat At-taubah : 108). Masjid dengan luas tanah sekitar 5.035 meter persegi ini awalnya merupakan tanah bekas kebun korma milik seorang sahabat Rasulullah saw. Ketika pertama dibangun, masjid ini hanya memiliki luas 1.200 meter persegi. Di sinilah tonggak pertama syiar Islam yang bakal menerangi seluruh dunia dengan cahaya Ilahi. Meskipun sangat sederhana, Masjid Quba boleh dianggap sebagai contoh bentuk dari pada masjid-masjid yang didirikan orang di kemudian hari. Bangunan yang sangat bersahaja itu sudah memenuhi syarat-syarat yang perlu untuk pendirian masjid. Ia sudah mempunyai suatu ruang yang persegi empat dan berdinding di sekelilingnya. Di sebelah utara dibuat serambi untuk tempat sembahyang yang bertiang pohon korma, beratap datar dari pelepah dan  daun korma, bercampurkan tanah liat. Di tengah-tengah ruang terbuka dalam masjid yang kemudian biasa disebut sahn, terdapat sebuah sumur tempat wudhu, mengambil air sembahyang. Kebersihan terjaga, cahaya matahari dan udara dapat masuk dengan leluasa.

Masjid ini memiliki 19 pintu. Dari 19 pintu itu terdapat tiga pintu utama dan 16 pintu. Tiga pintu utama berdaun pintu besar dan ini menjadi tempat masuk para jamaah ke dalam masjid. Dua pintu diperuntukkan untuk masuk para jamaah laki-laki sedangkan satu pintu lainnya sebagai pintu masuk jamaah perempuan. Diseberang ruang utama mesjid, terdapat ruangan yang dijadikan tempat belajar mengajar.


Ketika pembangunan Masjid ini selesai, Rasulullah saw mengimami shalat selama 20 hari. Semasa hidupnya, lelaki yang dijuluki Al-Amin ini selalu pergi ke Masjid Quba setiap hari Sabtu, Senin dan Kami.Setelah Rasulullah saw wafat, para sahabat menziarahi masjid ini dan melakukan salat di sana.( HR. Bukhari no. 1117 , HR. Muslim no. 2478). Diceritakan dalam hadist yang disampaikan ibnu Umar radiallahu anhu dan diriwayatkan bukhari. Nabi Muhammad SAW sering berjalanan kaki atau menunggang binatang tunggangan untuk berziarah di Masjid Quba pada hari Sabtu, kadang pada hari Senin. Dalam cerita yang lain, Rasulullah sering salat sunat di Masjid Quba untuk menunggu Sayyidina Ali, yang rumahnya berada di belakang masjid ini. Dalam hadist yang riwayatkan Tarmizi, Rasulullah pernah bersabda “barang siapa yang mengambil wudhu di rumahnya dan mendirikan salat di dalamnya, maka ganjarannya sama dengan umrah”. Menurut cerita, hadist ini keluar setelah warga Quba menyampaikan kepada Rasulullah bahwa warga Makkah sangat beruntung bisa melaksanakan umrah setiap waktu di masjidil haram. Jarak Madinah dengan Makkah sangat jauh. Dengan kendaraan bus saat ini saja ditempuh dengan lima jam perjalanan. Apalagi di Zaman Rasulullah SAW. Sehingga masyarakat Quba bisa mendapatkan pahala umrah setiap waktu dengan mendirikan salat di masjid ini.

           Dari kisah masjid Quba ini sungguh menambah kepercayaan kita akan keadilan Allah SWT kepada seluruh hambanya dalam memberikan kesempatan menggapai pahala-Nya.
Cr: arminarekasurabaya.wordpress.com, haji.okezone.com
Selengkapnya → Pahala Pertama di masjid kuba
Posted by: Cheria Wisata

Wisata Jabal Magnet Madinah

Posted by Unknown on Thursday, May 31, 2012

Satu lagi mukjizat atau dalam bahasa yang lebih ringan disebut fenomena alam di tanah suci Madinah yaitu Jabal (Gunung) Magnet.


Lokasi yang mengandung magnet berkuatan besar itu terletak sekitar 30 kilometer di luar Kota Madinah, Arab Saudi. Orang menyebutnya Gunung Magnet (Jabal Magnet) untuk menjelaskan fenomena ini. Jabal Magnet terletak sekitar 30 km di utara Madinah dan katanya memiliki gaya tarik bumi (yang salah disebut sebagai magnet, padahal gravitasi) jauh lebih besar dari sekitarnya. Kekuatan magnet itu begitu besar sehingga mampu menarik bus yang berpenumpang. Kecepatan itu diperoleh bus tanpa mendapat bantuan mesin karena gigi berada pada posisi netral. Laju bus tanpa gigi persneling itu berlangsung sepanjang empat kilometer. Di jalan sepanjang empat km itu bus tertarik magnet. Setelah melewati empat kilometer, sopir bus harus memasukkan gigi persneling karena pengaruh magnet sudah melemah. Tidak ada batasan yang jelas, mulai dari mana jalan yang memiliki daya magnet itu. Tapi jika dirasakan, pengaruh magnet itu mulai bila kendaraan melaju dari bendungan air yang letaknya tak jauh dari putaran hingga bukit menjelang belokan ke Madinah. Setelah sekitar melaju lima km, kecepatan mobil mulai berkurang sedikit demi sedikit, padahal jalan masih menurun. Akhirnya, mobil memiliki kecepatan lambat saat berada di depan bendungan air.

Dari sejumlah informasi yang berkembang di Medinah, menyebutkan, dulunya Jabal Magnet ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang Arab Baduy. Saat itu si Arab ini menghentikan mobilnya karena ingin buang air kecil. Namun karena sudah kebelet, ia mematikan mesin mobil, tapi tidak memasang rem tangan. Ketika sedang enak-enaknya pipis, ia kaget bukan kepalang, mobilnya berjalan sendiri dan makin lama makin kencang. “Ia berusaha mengejar, tapi tentu saja tidak berhasil. Dan menurut kisahnya, mobilnya tersebut baru berhenti setelah melenceng ke tumpukan pasir di samping jalan,” ungkap Jawahir.
Fenomena yang mengesankan disini adalah efek keterbalikan gravitasi. Saat anda jalan menurun, rasanya sangat sulit. Pedal gas harus di tekan dalam-dalam. Sebaliknya, saat anda menanjak naik, kendaraan seolah bergerak begitu saja. Anda bahkan tidak perlu menekan pedal. Bila anda yang biasa di pegunungan, anda tentunya tahu kalau sebaliknya lah yang masuk akal. Naik sangat sulit karena melawan gravitasi, sementara turun sangat gampang, karena dibantu gravitasi. Bukan hanya dengan kendaraan, menuang air atau menggulirkan bola akan tampak naik mendaki, bukannya turun. Daerah semacam ini bukan hanya ada di Madinah, tapi di China: (Liaoning, Shan Dong, Xi An), Taiwan, Utah, Uruguay, India (Ladakh) dan Korea. Dan tidak ketinggalan di Gunung Kelud, Gunung Semeru dan mungkin di Pager Gunung, Pekalongan, negara kita sendiri. Beberapa orang langsung mengkaitkannya dengan UFO, paranormal, mukjizat religius, hantu, dan hal-hal yang justru lebih aneh lagi dari fenomenanya sendiri.

Menurut fisikawan, dan dibenarkan oleh pengukuran GPS, efek ini semata hanyalah ilusi. Yup. Ilusi yang disebabkan oleh lansekap. Posisi pohon dan lereng di daerah sekitar, atau garis cakrawala yang melengkung, dapat menipu mata sehingga apa yang terlihat menaiki tanjakan sesungguhnya menuruni tanjakan. Berdasarkan yang telah anda duga, tidak di seluruh bagian gunung yang mengalami kondisi ‘ajaib’ ini. Hanya pada titik tertentu, yang langka, yang kondisi-kondisi memungkinkan agar efek ini terjadi. Fisikawan Brock Weiss dari Universitas Negara Bagian Pennsylvania mengatakan “Kuncinya adalah lereng yang bentuknya sedemikian hingga memunculkan efek seolah anda menaiki tanjakan.” Pengukuran GPS yang dilakukan Weiss dan ilmuan lainnya menunjukkan kalau elevasi daerah dasar tanjakan, sesungguhnya lebih tinggi dari elevasi daerah puncak tanjakan. Jalannya sesungguhnya menurun! Pikiran manusia seringkali menipu, dan inilah mengapa kita tidak dapat semata bertopang pada kesaksian, walaupun jujur. Kita memerlukan alat ukur yang lebih canggih dan obyektif. Dalam kasus jabal magnet dan ratusan gunung sejenis di penjuru dunia, bukan Hukum Gravitasi Newton yang salah, tapi pikiran kita sendiri yang tertipu.

Terlepas mau atau tidaknya kita tertipu, Jabal Magnet Madinah ini telah terlanjur menjadi tempat wisata favorit di Madinah. Pemerintah Arab Saudi, menurut Abdul Ghani, lalu menjadikan kawasan itu sebagai tempat wisata andalan yang mampu menyedot jutaan jemaah dan wisatawan dari mancanegara. “Setiap hari lokasi ini selalu dikunjungi jemaah atau wisatawan yang ingin melihat keajaiban alam. Yang berkunjung ke sini bukan hanya warga asing, warga negara Saudi sendiri pun banyak yang sengaja berwisata ke Jabal Magnet,” katanya. Untuk itu, pemerintah Arab Saudi sudah membangun jalan raya yang begitu lebar agar pengunjung bisa merasakan dorongan magnet ketika melaju dengan kendaraannya. Di bagian ujung dibuat jalan melingkar untuk putaran ketika pengaruh medan magnet sudah lemah. Selain itu, di kedua sisi jalan sudah dibangun tenda-tenda untuk pengunjung dan sudah ditanam pohon-pohon agar kelihatan lebih hijau. Bahkan, di sebuah dataran yang berpasir, terdapat arena bermain mobil-mobilan untuk anak-anak. Kawasan ini juga sudah dilengkapi dengan sejumlah toilet untuk umum. Jalan dari Kota Madinah menuju kawasan ini juga sudah lebar dan mulus, sehingga untuk sampai ke lokasi tidak sampai 45 menit dengan mobil kecil atau bus. Pemandangan di kedua sisi jalan menuju kawasan ini juga cukup indah dan menakjubkan. Sebelah kanan dan kiri jalan dikelilingi oleh gunung berbatu. Terdapat juga areal peternakan domba, unta, serta kebun kurma yang membuat gurun menjadi agak menghijau.

Jadi, jika anda bepergian ke Arab Saudi baik untuk beribadah ataupun hanya berwisata dan belum mencoba dorongan misterius dari Jabal Magnet Madinah ini, tidak ada salahnya mencoba fenomena ini dalam hidup anda.

Cr: arminarekasurabaya.wordpress.com, supermilan.wordpress.com, faktailmiah.com

Selengkapnya → Wisata Jabal Magnet Madinah
Posted by: Cheria Wisata

Travel Tour Wisata Muslim Umroh Haji ONH Plus Cheria