Wisata Jabal Magnet Madinah

Posted by Unknown on Thursday, May 31, 2012

Satu lagi mukjizat atau dalam bahasa yang lebih ringan disebut fenomena alam di tanah suci Madinah yaitu Jabal (Gunung) Magnet.


Lokasi yang mengandung magnet berkuatan besar itu terletak sekitar 30 kilometer di luar Kota Madinah, Arab Saudi. Orang menyebutnya Gunung Magnet (Jabal Magnet) untuk menjelaskan fenomena ini. Jabal Magnet terletak sekitar 30 km di utara Madinah dan katanya memiliki gaya tarik bumi (yang salah disebut sebagai magnet, padahal gravitasi) jauh lebih besar dari sekitarnya. Kekuatan magnet itu begitu besar sehingga mampu menarik bus yang berpenumpang. Kecepatan itu diperoleh bus tanpa mendapat bantuan mesin karena gigi berada pada posisi netral. Laju bus tanpa gigi persneling itu berlangsung sepanjang empat kilometer. Di jalan sepanjang empat km itu bus tertarik magnet. Setelah melewati empat kilometer, sopir bus harus memasukkan gigi persneling karena pengaruh magnet sudah melemah. Tidak ada batasan yang jelas, mulai dari mana jalan yang memiliki daya magnet itu. Tapi jika dirasakan, pengaruh magnet itu mulai bila kendaraan melaju dari bendungan air yang letaknya tak jauh dari putaran hingga bukit menjelang belokan ke Madinah. Setelah sekitar melaju lima km, kecepatan mobil mulai berkurang sedikit demi sedikit, padahal jalan masih menurun. Akhirnya, mobil memiliki kecepatan lambat saat berada di depan bendungan air.

Dari sejumlah informasi yang berkembang di Medinah, menyebutkan, dulunya Jabal Magnet ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang Arab Baduy. Saat itu si Arab ini menghentikan mobilnya karena ingin buang air kecil. Namun karena sudah kebelet, ia mematikan mesin mobil, tapi tidak memasang rem tangan. Ketika sedang enak-enaknya pipis, ia kaget bukan kepalang, mobilnya berjalan sendiri dan makin lama makin kencang. “Ia berusaha mengejar, tapi tentu saja tidak berhasil. Dan menurut kisahnya, mobilnya tersebut baru berhenti setelah melenceng ke tumpukan pasir di samping jalan,” ungkap Jawahir.
Fenomena yang mengesankan disini adalah efek keterbalikan gravitasi. Saat anda jalan menurun, rasanya sangat sulit. Pedal gas harus di tekan dalam-dalam. Sebaliknya, saat anda menanjak naik, kendaraan seolah bergerak begitu saja. Anda bahkan tidak perlu menekan pedal. Bila anda yang biasa di pegunungan, anda tentunya tahu kalau sebaliknya lah yang masuk akal. Naik sangat sulit karena melawan gravitasi, sementara turun sangat gampang, karena dibantu gravitasi. Bukan hanya dengan kendaraan, menuang air atau menggulirkan bola akan tampak naik mendaki, bukannya turun. Daerah semacam ini bukan hanya ada di Madinah, tapi di China: (Liaoning, Shan Dong, Xi An), Taiwan, Utah, Uruguay, India (Ladakh) dan Korea. Dan tidak ketinggalan di Gunung Kelud, Gunung Semeru dan mungkin di Pager Gunung, Pekalongan, negara kita sendiri. Beberapa orang langsung mengkaitkannya dengan UFO, paranormal, mukjizat religius, hantu, dan hal-hal yang justru lebih aneh lagi dari fenomenanya sendiri.

Menurut fisikawan, dan dibenarkan oleh pengukuran GPS, efek ini semata hanyalah ilusi. Yup. Ilusi yang disebabkan oleh lansekap. Posisi pohon dan lereng di daerah sekitar, atau garis cakrawala yang melengkung, dapat menipu mata sehingga apa yang terlihat menaiki tanjakan sesungguhnya menuruni tanjakan. Berdasarkan yang telah anda duga, tidak di seluruh bagian gunung yang mengalami kondisi ‘ajaib’ ini. Hanya pada titik tertentu, yang langka, yang kondisi-kondisi memungkinkan agar efek ini terjadi. Fisikawan Brock Weiss dari Universitas Negara Bagian Pennsylvania mengatakan “Kuncinya adalah lereng yang bentuknya sedemikian hingga memunculkan efek seolah anda menaiki tanjakan.” Pengukuran GPS yang dilakukan Weiss dan ilmuan lainnya menunjukkan kalau elevasi daerah dasar tanjakan, sesungguhnya lebih tinggi dari elevasi daerah puncak tanjakan. Jalannya sesungguhnya menurun! Pikiran manusia seringkali menipu, dan inilah mengapa kita tidak dapat semata bertopang pada kesaksian, walaupun jujur. Kita memerlukan alat ukur yang lebih canggih dan obyektif. Dalam kasus jabal magnet dan ratusan gunung sejenis di penjuru dunia, bukan Hukum Gravitasi Newton yang salah, tapi pikiran kita sendiri yang tertipu.

Terlepas mau atau tidaknya kita tertipu, Jabal Magnet Madinah ini telah terlanjur menjadi tempat wisata favorit di Madinah. Pemerintah Arab Saudi, menurut Abdul Ghani, lalu menjadikan kawasan itu sebagai tempat wisata andalan yang mampu menyedot jutaan jemaah dan wisatawan dari mancanegara. “Setiap hari lokasi ini selalu dikunjungi jemaah atau wisatawan yang ingin melihat keajaiban alam. Yang berkunjung ke sini bukan hanya warga asing, warga negara Saudi sendiri pun banyak yang sengaja berwisata ke Jabal Magnet,” katanya. Untuk itu, pemerintah Arab Saudi sudah membangun jalan raya yang begitu lebar agar pengunjung bisa merasakan dorongan magnet ketika melaju dengan kendaraannya. Di bagian ujung dibuat jalan melingkar untuk putaran ketika pengaruh medan magnet sudah lemah. Selain itu, di kedua sisi jalan sudah dibangun tenda-tenda untuk pengunjung dan sudah ditanam pohon-pohon agar kelihatan lebih hijau. Bahkan, di sebuah dataran yang berpasir, terdapat arena bermain mobil-mobilan untuk anak-anak. Kawasan ini juga sudah dilengkapi dengan sejumlah toilet untuk umum. Jalan dari Kota Madinah menuju kawasan ini juga sudah lebar dan mulus, sehingga untuk sampai ke lokasi tidak sampai 45 menit dengan mobil kecil atau bus. Pemandangan di kedua sisi jalan menuju kawasan ini juga cukup indah dan menakjubkan. Sebelah kanan dan kiri jalan dikelilingi oleh gunung berbatu. Terdapat juga areal peternakan domba, unta, serta kebun kurma yang membuat gurun menjadi agak menghijau.

Jadi, jika anda bepergian ke Arab Saudi baik untuk beribadah ataupun hanya berwisata dan belum mencoba dorongan misterius dari Jabal Magnet Madinah ini, tidak ada salahnya mencoba fenomena ini dalam hidup anda.

Cr: arminarekasurabaya.wordpress.com, supermilan.wordpress.com, faktailmiah.com

SelengkapnyaWisata Jabal Magnet Madinah
Posted by: Cheria Wisata

Panduan Cara Mengenakan Kain Ihram

Posted by Unknown on Tuesday, May 22, 2012


Panduan Cara Mengenakan Kain Ihram


Salah satu hikmah mengapa setiap jamaah haji mengenakan pakaian ihram, agar mereka melepaskan semua atribut keduniaan mereka. Mereka berpakaian sama, tanpa dijahit dan tanpa gaya. Hanya kain panjang yang mereka jadikan sebagai pembungkus tubuh.

Hal itu mengisyaratkan bahwa mereka semuanya sama. Tidak ada tuan atau pelayan. Polisi, petani, pejabat, semuanya berpakaian sama. Jadi, orang yang masih merasa lebih dari orang lain perlu dipertanyakan keihramannya.


Kain ihram, Pakaian Ihram, Tips Persiapan Pergi Haji,
Panduan Cara Mengenakan Kain Ihram


Kain Ihram adalah Salah satu barang yang wajib disiapkan kaum Muslimin calon haji sebelum berangkat umrah dan haji. Pakaian ihram dalam Haji Umrah wajib dikenakan. Tanpa mengenakan pakaian ihram, maka ihramnya menjadi Batal. Oleh karena itu, seorang calon Jamaah haji wajib membayar fidyah. Yaitu, berpuasa selama tiga hari, memberi makan enam orang miskin, atau memotong kambing. Namun, menyembelih atau memberikan makan enam orang miskin tersebut harus di Makkah. Sedangkan, berpuasa dapat dilakukan di mana saja.

Dalam melaksanakan ibadah Haji, agar terhindar dari fidyah tersebut, seorang calon haji sebaiknya menyiapkan pakaian ihram sebelum berangkat ke Tanah Suci. Pakaian ihram ini adalah dua lembar kain yang tidak boleh ada jahitannya. Dan, memang hanya dua lembar kain ini yang boleh dikenakan untuk menutupi tubuh. Dari kedua lembar kain ini, yang satu digunakan sebagai selendang untuk menutupi tubuh bagian bawah dan yang satunya lagi untuk menutupi tubuh bagian atas.

Tips Membawa Kain Ihram

Nabi Muhammad SAW saat ditanya tentang pakaian orang berihram menyebutkan, Artinya: Ia tidak boleh memakai qamis, sorban, celana, tudung kepala, dan khuf, kecuali orang yang tidak mendapatkan sandal, maka dia boleh memakai khuf (sepatu bot). Dan, hendaklah dia memotong khuf sampai bawah mata kaki.” [Muttafaqun 'alaih dari hadis Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhu]

Yang menjadi pertanyaan kemudian, berapa lembar kain ihram yang perlu dibawa ke Tanah Suci. Bila seorang calon haji tersebut berniat melaksanakan haji tamatu (umumnya dilakukan jamaah haji Indonesia), tiga lembar kain ihram sudah cukup.

Karena bila membawa kain ihram terlalu banyak, hal ini akan memenuhi koper bagasi yang seharusnya bisa diisi dengan barang kebutuhan lain. Apalagi, kain ihram yang biasa digunakan jamaah haji asal Indonesia adalah kain tebal yang menyerupai kain handuk, yang akan cukup banyak menyita tempat di koper.

Sedangkan, bila hanya membawa dua lembar kain ihram, kita tidak bisa berganti kain ihram, padahal pakaian ihram yang dikenakan sudah kotor karena sudah digunakan selama beberapa hari.

Pertimbangan membawa kain ihram sebanyak tiga lembar mengingat kebutuhan penggunaannya selama di Tanah Suci. Saat pertama kali datang ke Kota Makkah, calon haji tamatu akan melaksanakan ibadah umrah. Untuk itu, sejak dari miqat atau batas demarkasi yang menjadi batas wilayah Tanah Suci, seorang calon haji harus sudah mengenakan pakaian ihram.

Dari miqat ini, kemudian menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan tawaf qudum dan sai. Setelah melakukan umrah, calon jamaah haji tersebut sudah boleh mengenakan pakaian biasa lagi. Dengan demikian, pemakaian kain ihram tersebut tidak terlalu lama.

Penggantian pakaian ihram tak perlu seluruhnya. Dengan tiga lembar kain ihram yang dibawa, penggantian kain ihram bisa hanya kain bagian bawahnya. Hal ini karena antara kain ihram bagian atas dan kain ihram bagian bawah biasanya akan lebih cepat kotor yang bagian bawah.

Berikut Video Cara Mengenakan Kain Ihram


SelengkapnyaPanduan Cara Mengenakan Kain Ihram
Posted by: Cheria Wisata

Menelisik Sejarah Perjalanan Haji

Posted by Unknown on Monday, May 21, 2012


Perjalanan haji sekarang ini bukanlah menjadi suatu hal yang istimewa lagi, tentu sudah banyak warga Indonesia yang melakukan perjalanan haji bahkan di sekeliling kita sudah banyak “ibu dan pak haji” bertebaran. Tentu kita penasaran apakah sejak dari dahulu kala perjalanan haji mudah dilakukan orang indonesia?. Menurut sumber-sumber di internet perjalanan haji di Indonesia sudah ada sejak abad ke-19.  Saat itu, masyarakat yang terdaftar sebagai jamaah haji harus bersabar menempuh perjalanan yang panjang hingga berbulan-bulan untuk sampai ke Mekkah. Perjalanan panjang itu ditempuh melalui laut dengan menggunakan kapal layar. Meskipun pada masa itu jamaah haji sudah ada yang berhasil diberangkatkan, ternyata mereka semua berangkat tidak dengan koordinasi pemerintah ketika itu. Waktu itu belum berdiri negara Indonesia, yang ada adalah pemerintahan Hindia Belanda, sehingga wajar kalau mereka berangkat secara sendirisendiri. Namun, tidak berapa lama kemudian Belanda mengeluarkan sejumlah peraturan haji yang salah satunya adalah Ordonasi di tahun 1825.
            Tetapi menurut sumber yang lain ternyata pada zaman kerajaan-kerajaan di indonesia para raja-raja telah mengutus utusannya ke Mekkah. Hubungan Muslim Nusantara dan Timur Tengah terkoneksi sejak Islam berkembang di Nusantara. Berdasarkan studi Azyumardi Azra (Jaringan Ulama,1998), hubungan itu bersifat politis dan keilmuan. Hubungan politis terjalin antara sejumlah kerajaan di Nusantara dengan Dinasti Utsmani. Aceh, Banten, Mataram, telah mengirimkan utusan ke Haramain (Mekkah-Madinah) sejak abad ke-17. Selain berhaji, mereka juga membawa gelar sultan dari Syarif Mekkah (penguasa Mekkah). Bisa jadi sebagai penguat wibawa atas kekuasaan mereka. Tetapi ada juga hubungan keilmuan. Sejak Dinasti Utsmani mengamankan jalur perjalanan haji, kian banyak pula yang menuntut ilmu pada abad ke-14 hingga ke-15. Hal itulah yang mendorong munculnya komunitas Jawi. Orang Arab menyebutnya ashab Al Jawiyin (saudara kita orang Jawi). Jawi beradal dari Jawa. Komunitas Jawi untuk menyebut orang-orang yang berasal dari Nusantara (bahkan Asia Tenggara). Nama-nama ulama seperti Syekh Yusuf Al- Makassary (Makassar) dan Syekh Abdul Rauf Al-Sinkili (Singkel, Aceh), merupakan ulama yang malang melintang menuntut ilmu di Haramain pada abad ke- 17. Syekh Abdul Shomad Al-Palimbani (Palembang), Syekh Nafis Al-Banjari (Banjar, Kalsel), Syekh Arsyad Al-Banjari (Banjar, Kalsel) merupakan ulama tasawuf Tarekat Samaniyah yang berpengaruh pada abad ke-18. Kita juga mengenal nama-nama seperti Syekh Nurudin Al-Raniri (Aceh), Syekh Abdul Rahman Al Masry Al Batawi (Jakarta), Syekh Khatib Sambas (Kalimantan), dan lain-lainnya. Pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, ulama kita malah makin hebat-hebat di Mekkah. Karena tak sekadar menuntut ilmu, tapi justru menembus pusat ilmu di Mekkah, yaitu sebagai pengajar dan imam di Masjidil Haram. Peneliti sufisme dari Universitas Utrecht, Belanda, Martin van Bruinessen (Kitab Kuning, 1995) menyebutkan ada tiga ulama yang menjadi guru di Masjidil Haram. Pengaruhnya pun sangat besar terhadap jemaah haji di Nusantara.
Kemudian, pada tahun 1912, Perserikatan Muhammadiyah yang didirikan KH Ahmad Dahlan secara bersama mendirikan Bagian Penolong Haji dan diketuai KH M Sudjak. Pendirian lembaga ini ternyata mampu menjadi perintis berdirinya lembaga serupa saat itu. Dan pada 1922, pemerintah saat itu berinisiatif mendirikan Direktorat Urusan Haji. Pendirian itu kemudian mengilhami Volksraad untuk mengubah poin dalam ordinasi haji. Dalam ordonasi yang kemudian dikenal dengan Pilgrim Ordinasi 1922 disebutkan bahwa bangsa pribumi dapat mengusahakan pengangkutan calon haji. Dengan adanya perubahan itu, secara perlahan pengiriman jamaah haji mulai dilakukan secara bersamaan oleh pribadi dan negara. Bagi masyarakat saat itu, kondisi itu tentu saja cukup melegakan karena semakin memudahkan masyarakat yang ingin berhaji. Setelah berlangsung cukup baik, aktivitas pemberangkatan jamaah haji sempat vakum selama kurun waktu 1945-1949. Namun, pemberangkatan kembali jamaah haji ke Mekkah baru benar-benar dilaksanakan pada 1949/1950. Pada awal penyelenggaraan kembali, pengiriman dilakukan dengan melibatkan secara bersamaan antara Departemen Agama, Yayasan Perjalanan Ibadah Haji (YPIH) dan badan-badan lain yang terkait. Alasan dilibatkannya lembaga terkait, karena saat itu Indonesia dianggap baru merdeka dan karenanya diperlukan seluruh potensi yang ada sesusai fungsi dan kedudukan masing-masing.
Pada awal-awal penyelenggaraan kembali, negara belum bisa mendapat keuntungan karena saat itu masih dalam tahap peralihan dan negara sama sekali belum berpengalaman. Pada awal penyelenggaraan itu, negara juga dipengaruhi oleh badal-badal syekh dan broker atau tengkulak haji. Dari sana, kemudian muncul usaha-usaha perorangan dan panitia-panitia penyokong haji yang banyak melibatkan pihak swasta dan jasa haji. Penyelenggaraan haji oleh swasta saat itu, pada pelaksanaannya ternyata tidak ada rasa tanggungjawab dari mereka dan justru cenderung mencari keuntungan sebanyak mungkin. Setelah melewati rangkaian masa percobaan yang cukup panjang, akhirnya mulai tahun 1969  pemerintah secara penuh menangani pemberangkatan jamaah haji. Pengambilalihan penuh itu dilakukan karena sebelumnya banyak calon jamaah yang mengeluhkan banyaknya kendala saat diberangkatkan oleh swasta. Bahkan, dalam keluhan itu tidak sedikit ada yang mengaku akhirnya gagal diberangkatkan ke Tanah Suci. Maka dengan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 1969, pemerintah mengeluarkan kebijaksanaan mengambil alih semua proses penyelenggaraan perjalanan haji oleh pemerintah. Dan karenanya, dua penyelanggara ibadah haji milik swasta dan perorangan, yakni Yayasan Penyelenggaraan Ibadah Haji (YPHI) dan PT Arafat, yang masing-masing sebelumnya. Mulai sejak itulah Indonesia rutin mengirimkan jemaah haji ke tanah suci dengan koordinasi pemerintah seperti sekarang ini. 

Badal Haji

Cr: antaranews.com, internasional-kompas.com
SelengkapnyaMenelisik Sejarah Perjalanan Haji
Posted by: Cheria Wisata

Biaya Haji Murah Dengan Dinar Emas

Posted by Unknown on Tuesday, May 15, 2012

Program Biaya Haji Murah Dengan Dinar Emas

Menjadi hamba Alloh yang berkesempatan dapat menunaikan ibadah haji di Baitulloh tentunya menjadi cita-cita kita semua. Bersujud langsung di depan bangunan ka’bah yang menjadi kiblat seluruh ummat islam di dunia, memunajatkan do’a di tempat yang telah Alloh istimewakan untuk di kabulkan daripadanya, bertemu dengan saudara-saudara sesama muslim dari berbagai penjuru dunia. Semua itu selalu saja mengundang tetes air mata kita untuk ingin dan selalu berharap bisa mewujudkannya.

Namun Jika kita perhatikan, Ongkos Naik Haji (ONH) ini selalu mengalami kenaikan tiap tahunnya sekitar 7-10 % per tahun, karena tergantung biaya-biaya dan kurs dollar yang cukup mempengaruhi juga kenaikan ONH ini. Data membuktikan sebagai berikut :

Tahun 1970 ONH hanya Rp 182.000.
Tahun 1988, ONH adalah Rp 4.780.000
Pada 1998, ONH senilai Rp 8.805.000
Persis tahun berikutnya, 1999 – 2000, setelah terjadi krisis ekonomi besar yang melanda Indonesia dan dunia, biaya haji naik hingga Rp 21,5 juta.
Tahun 2008, ONH menjadi 32.400.000.
Tahun ini, ONH sekitar Rp 35 juta.


Dinar Emas, Alternatif Dana Talangan Haji Yang Lebih Baik

Karena semakin banyaknya minat ummat untuk bisa melaksanakan ibadah tersebut, ternyata telah mengundang gerak dari lembaga-lembaga keuangan seperti bank-bank syariah untuk meluncurkan produk dana talangan haji bagi masyarakat. Dana talangan haji tersebut diperuntukkan bagi masyarakat untuk bisa memfokuskan niatnya agar lebih konsisten dalam mempersiapkan finansial untuk bisa melaksanakan ibadah haji tersebut.

Seperti kita ketahui, untuk memiliki nomor seat keberangkatan haji ke tanah suci memerlukan waktu waiting list yang tidak sebentar, tergantung ketersediaan tempat, hingga ada yang baru memiliki kesempatan tersebut setelah 10 tahun melakukan pendaftaran. Dan untuk mendapatkan nomor tersebut juga, minimal kita harus memiliki biaya minimal 30 juta rupiah.

Mengapa Dinar Emas ?

Setelah kita mengenal apa itu koin dinar emas islam, maka hal selanjutnya yang perlu kita juga ketahui adalah apa sebenarnya fungsi dari dinar emas tersebut. Apakah hanya sebagai koleksi kita saja di rumah? Ternyata dinar emas memiliki tiga fungsi utama yang jika kita uraikan sebagai berikut :


  • Dinar emas berfungsi sebagai store of value (proteksi nilai) dan unit of account (timbangan muamalah yang adil), hal ini menjadikan point penting dari dinar emas, karena ternyata fungsi ini merupakan 2 fungsi utama dari uang, dan ternyata keduanya ada di dinar emas.
  • Dinar emas juga berfungsi sebagai medium of exchange (alat tukar). Sebagai alat tukar, jelas bahwa dengan menggunakan dinar emas sebetulnya kita bisa melakukan proses transaksi tukar menukar uang dengan barang, meskipun memang proses ini pada saat sekarang jarang dilakukan.
  • Dinar emas berfungsi sebagai alat investasi. Dengan sebuah nilai yang diharapkan akan memiliki nilai jual lebih tinggi dan menguntungkan di masa depan, menjadikan dinar emas termasuk kedalam salah satu jenis media untuk kita berinvestasi.

Dari ketiga fungsi tersebut, memang tidak bisa dipungkiri kebanyakan dari kita lebih menjadikan fungsi ketiga yaitu menjadikan dinar emas sebagai alat investasi sebagai tujuan utama ketika kita mulai memiliki dinar emas tersebut. Hal ini memang cocok sekali, apalagi bagi anda yang memiliki tujuan jangka panjang untuk melaksanakan ibadah haji, untuk mempersiapkan tabungan pendidikan anak, memiliki rumah idaman, memperbaiki rumah yang ada, tabungan pensiun, dan sebagainya. Hal ini karena dinar emas termasuk kedalam jenis long time investment, dimana kita insyaAlloh baru bisa merasakan keuntungannya dalam jangka waktu yang relatif lebih lama. Jadi memang kita tidak bisa berharap keuntungan dalam jangka pendek

Bagi sebagian besar kita tentunya nominal tersebut memang tidak sedikit. Nah, disini produk dana talangan haji berperan, anda bisa melakukan pendaftaran haji dari sekarang juga dengan memiliki uang misalkan meskipun hanya sebesar 2 hingga 5 juta rupiah sekalipun. Sisanya, bank akan membayarkannya untuk kita. Namun selama waiting list keberangkatan tersebut, kita diharuskan untuk melunasi dana talangan tersebut. Dan memang kita tidak akan bisa berangkat haji sebelum lunas dana talangan tersebut.

Biaya haji ke Tanah Suci, pada tahun 1997 membutuhkan 310 gram emas, namun pada tahun 2007 turun menjadi 145 gram emas dan pada 2010 kemarin turun lagi menjadi 95 gram emas sudah bisa berhaji. Hal ini, sangat bertolak belakang dengan nilai uang kertas dimana biaya berhaji selalu meningkat dari tahun ke tahun jika menggunakan uang kertas.

Program Tabungan Haji Terencana Dinar Emas adalah program haji plus dengan metode cash dimuka terencana. Biaya yang anda keluarkan akan tergantung dengan tahun keberangkatan yang anda inginkan (makin jauh keberangkatan direncanakan makin henat biaya yang dikeluarkan).

KELEBIHAN PROGRAM HAJI TERENCANA:
1. Makin awal direncanakan makin hemat biaya dikeluarkan
2. Aman dari inflasi
3. Bonus tak terduga (diakhir program)

CONTOH ILUSTRASI:
Jika anda melunasi tanggal 1 november 2011 ( 1 dinar = RP 2,253,909 ) untuk keberangkatan tahun 2013, maka anda hanya membayar sejumlah 26,94 Dinar x 2,253,909 = Rp 60,720,308 untuk paket seharga US$ 8600 (hemat US$ 1219)

ASUMSI
Ilustrasi diatas menggunakan satuan Dinar Emas ( 1 Dinar = 4.25 gram emas 22 karat). Asumsi kenaikan harga emas pertahun adalah 20% (pada kenyataannta diatas 25%) sudah memperhitungkan setoran awal porsi BPIH Plus US$ 4000 dan pelunasan tahap 2 BPIH sebesar US$ 3000.

Plus dan minus diakhir program akan diberitahukan dengan memperhitungkan kurs Rupiah terhadap Dollar US dan faktor lain yang berhubungan dengan penyelenggaraan Haji Plus (tiket pesawat, otel, kebijakan pemerintah dan lain-lain).

- Jika Plus maka akan menjadi bonus untuk jamaah
- Jika minus maka jamaah akan menambah kekurangaannya

Jadi kita bisa dengan biaya haji murah dengan dinar emas,Semoga dengan program ini akan mempermudah dan membantu niat kita ke tanah suci,  bagi rekan-rakan yang berminat dengan program ini bisa menghubungi staf marketing kami.
SelengkapnyaBiaya Haji Murah Dengan Dinar Emas
Posted by: Cheria Wisata

Travel Tour Wisata Muslim Umroh Haji ONH Plus Cheria