Bedah Fasilitas Haji Reguler

Posted by Unknown on Sunday, June 10, 2012

Bingung, mau pilih-pilih paket haji? Jangan khawatir, di website Cheria Travel ini, semua permasalahan terkait ibadah haji dan umrah akan dibahas, tidak terkecuali pembahasan seputar fasilitas paket haji yang ada saat ini.

Mitra haji dan umrah, bingung saat harus memilih paket pemberangkatan haji adalah hal yang wajar, terlebih bagi yang masih awam atau belum pernah pergi ke tanah suci. Pengetahuan yang minim adalah salah satu penyebabnya. Nah, kali ini kita akan membahas atau membedah sekilas fasilitas yang ditawarkan dalam paket haji reguler. Harapannya, informasi ini bisa dijadikan bekal persiapan bagi mitra haji dan umrah sebelum menunaikan ibadah haji.

ONH /BPIH reguler

ONH merupakan singkatan dari ongkos naik haji, sedangkan BPIH singkatan dari biaya penyelenggaraan ibadah haji. ONH/BPIH reguler jelas lebih murah dibandingkan dengan haji plus. Jika BPIH untuk haji plus berkisar minimal 70 jutaan, BPIH haji reguler hanya setengahnya, berkisar 35 jutaan.

Masa tunggu pemberangkatan (waiting list)

Masa tunggu (waiting list) haji reguler di setiap daerah bisa berbeda, tergantung dari sedikit banyaknya pendaftar di daerah yang bersangkutan. Ada yang hanya membutuhkan 2 tahun, 4 tahun, bahkan ada yang lebih dari 10 tahun. Berbeda dengan masa tunggu pemberangkatan (waiting list) calon jamaah haji plus yang lebih cepat.

Lamanya ibadah di tanah suci

Pelaksanaan haji reguler sekitar 40 hari. Perinciannya, lama ibadah di Mekkah sekitar 20 hari, di Arafah - Mina 4 hari, dan di Madinah sekitar 6 hari.

Akomodasi dan konsumsi


Kebutuhan akomodasi dan konsumsi sehari-hari haji reguler selama di Mekkah harus diusahakan sendiri oleh para jamaah. Untuk makan, jamaah bisa memasak sendiri, membeli makanan di warung makan, atau memesan katering sendiri.

Adapun akomodasi dan konsumsi bagi jamaah haji reguler selama di Madinah ditanggung oleh pihak hotel. Biasanya, jamaah mendapatkan jatah makan dua kali. Satu porsi makan terdiri dari nasi dan lauk, ditambah buah dan minuman mineral. Secara keseluruhan, pemondokan atau maktab jamaah di Madinah ditempatkan di hotel yang relatif sangat dekat dengan Masjid Nabawi. Dengan begitu, jamaah tidak perlu mengeluarkan ongkos naik taksi, cukup dengan berjalan kaki.

Selama 4 hari di Arafah, Muzdalifah, dan Mina, konsumsi juga ditanggung pihak maktab. Dengan begitu, jamaah tidak perlu merogoh kocek sama sekali untuk konsumsi karena sudah ditanggung pihak penyelenggara.

Penginapan

Disadari atau tidak, letak penginapan merupakan hal yang sangat penting bagi jamaah haji. Hal ini disebabkan kenyamanan beribadah tergantung pada jarak dan kenyamanan di jalan saat menuju tempat ibadah, baik di Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi.

Selain harus menghadapi suhu panas di siang hari dan suhu dingin di malam hari yang cukup ekstrim, jamaah juga menghadapi banyaknya debu saat angin bertiup. Semakin jauh jarak pemondokan ke masjid akan memperbesar risiko terpapar suhu dan debu tersebut.

Hal yang tak kalah pentingnya adalah masalah keamanan. Tak sedikit jamaah yang tersesat jauh dari pemondokannya dan menjadi sasaran kejahatan seperti pencopetan maupun penipuan. Oleh sebab itu, semakin dekat pemondokan dengan tempat tujuan ibadah akan semakin baik.

Letak pemondokan jamaah haji reguler selama di Mekkah cukup bervariasi. Rata-rata, jamaah haji reguler dari Indonesia ditempatkan pada ring I yang berjarak maksimal 2 km dan ring II yang berjarak 4 km dari Masjidil Haram. Penempatan jamaah berdasarkan pemondokannya ditentukan dengan cara qur’ah (pengundian).

Bimbingan selama di tanah suci

Selama di tanah suci, semua jamaah haji mendapatkan bimbingan dalam mempermudah dalam menjalankan semua kegiatan, terutama di Mekkah, Arafah, Mudzdalifah, dan Mina. Saat ini, bimbingan bagi jamaah haji regular telah banyak dilakukan oleh KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji). KBIH akan menuntun dan membimbing jamaah selama di tanah air maupun di tanah suci. Namun, pemerintah juga telah membentuk TPHI, yang merupakan petugas khusus dari Departemen Agama yang mendapatkan tugas mendampingi dan mempermudah pelaksanaan ibadah haji selama di tanah suci.

Bimbingan haji ini dilakukan agar para jamaah bisa beribadah dengan khusyu’, tidak kebingungan, dan pada akhirnya bisa meraih kemabruran. Memang, kemabruran haji hanya Allah yang tahu. Adapun jamaah haji sendiri yang harus menjemput dan mempersiapkan diri agar dimudahkan dalam meraih ibadah haji mabrur. Mabrur bukan ditentukan dari fasilitas yang diperoleh dan dinikmati selama menjalankan ibadah haji di tanah suci. Banyak jamaah haji regular, meskipun dengan keterbatasan waktu dan jarak tempuh dari pemondokan, tapi mereka mampu memaksimalkan ibadahnya di tanah suci. Mampu menjalankan ibadah shalat jamaah 5 waktu dan ibadah lain. Mereka benar-benar menyatukan niat dan keihlasan semata-mata mencari ridho Allah dalam memperoleh kemabruran.

Nah, inilah sekilas pemaparan fasilitas yang diberikan pada paket haji reguler. Paket haji reguler diselenggarakan oleh pemerintah, dalam hal ini Departemen Agama. (Jng/RA)
SelengkapnyaBedah Fasilitas Haji Reguler
Posted by: Cheria Wisata

Eits! Jangan Salah Ucapkan Talbiyah

Posted by Unknown on Friday, June 8, 2012

Mitra haji dan umrah, seperti kita ketahui bersama, jamaah haji dan umrah tidak bisa lepas dari aktivitas mengucapkan kalimat talbiyah. Hal tersebut disebabkan mengucapkan talbiyah telah disyariatkan bagi para jamaah haji dan umrah. Berikut lafadz kalimat talbiyah.

Labbaika Allahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik, innalhamda wan-nikmata laka wal-mulka laa syariika lak.

Memang, itulah kalimat talbiyah yang disyariatkan untuk diucapkan seluruh jamaah haji ketika menjalankan rukun Islam ke-5 ini di tanah suci. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kalimat talbiyah di atas berarti:

“Kami datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, kami datang memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji dan kebesaran untuk-Mu semata, segenap kerajaan adalah milik-Mu, dan tidak ada sekutu bagimu.”


Wah, tampaknya mudah, ya? Tinggal menghapalkannya dan mengucapkannya saja. Namun, terdapat tata cara mengucapkan kalimat talbiyah, terkait waktu, tempat, dan beberapa hal lainnya yang perlu diperhatikan.

Waktu dan tempat bertalbiyah

Pengucapan kalimat talbiyah dimulai sejak seseorang berniat ihram sampai melempar jumrah Aqabah pada Hari Nahar. Waktu talbiyah tersebut berlaku jika jamaah haji yang bersangkutan berniat ihram untuk haji. Sementara jika jamaah berniat ihram untuk umrah maka waktu talbiyahnya dimulai sejak ihram sampai thawaf. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh sebagian besar fukaha seperti ats Tsawri, Asy Syafi’i, dan Abu Hanafi. Pendapat ini didasarkan pada sebuah hadits riwayat Ahmad di dalam kitabnya, Musnad Ahmad, yang menyebutkan bahwa Nabi saw terus-menerus mengucapkan talbiyah sampai beliau melempar jumrah.

Jika Ahmad dan Ishaq mengatakan bahwa waktu mengucapkan talbiyah dimulai dari ihraam hingga lemparan jumrah yang tiga, Imam Malik berpendapat bahwa waktu talbiyah dimulai dari ihram hingga terbenamnya matahari pada Hari Arafah.

Bagi jamaah haji wanita yang sedang ihram disunnahkan mengucapkan kalimat talbiyah terus-menerus. Dia bisa bertalbiyah dalam keadaan duduk, berdiri, berjalan, di atas kendaraan, bahkan dalam keadaan haid sekali pun. Disunnahkan juga untuk mengucapkan talbiyah saat hendak melakukan sesuatu seperti naik ke atas kendaraan, berkumpul bersama teman-temannya, saat berada di dalam Masjidil haram, Masjid Khayf, dan Namrah. Namun, jamaah haji wanita tidak disunnahkan bertalbiyah pada saat melakukan thawaf qudum, yaitu thawaf selamat datang yang dilakukan sesaat setelah memasuki kota Mekkah, serta saat melakukan sa’i. Selain itu, jamaah haji wanita juga tidak dianjurkan mengucapkan kalimat talbiyah pada saat mengerjakan thawaf ifadhah dan thawaf wada. Hal ini disebabkan waktu untuk bertalbiyah telah habis setelah jamaah haji melempar jumrah Aqabah.

Bolehkan wanita mengucapkan kalimat talbiyah dengan keras?


Dalam Buku Induk Haji & Umrah untuk Wanita, Dr. Ablah Muhammad al Kahlawi menuliskan bahwa terdapat dua pendapat menyikapi perlu keras atau tidaknya jamaah haji wanita saat mengucapkan kalimat talbiyah.

Pertama, para fukaha sepakat bahwa perempuan tidak disunnahkan untuk mengeraskan suara saat bertalbiyah. Jamaah haji wanita hanya boleh mengucapkan talbiyah dengan volume suara yang sekiranya hanya bisa didengarnya sendiri. Pendapat ini dikemukakan oleh Imam Malik, al Awza’i, Atha’, Mu’tazilah, dan Imam Syafi’i; berdasarkan sebuah riwayat dari Ibnu Umar yang berkata, “ Perempuan hendaknya tidak naik melebihi Bukit Shafa dan Marwa dan tidak mengeraskan suaranya saat bertalbiyah.” (HR. Al Baihaqi). Riwayat serupa juga dikeluarkan oleh Ibnu Abbas.

Kedua, fukaha dari mazhab Zhahiriyah (kaum tekstualis), berpendapat bahwa hukum mengeraskan suara saat bertalbiyah adalah wajib, baik bagi jamaah haji pria maupun wanita. Hal ini disebabkan pada masa Nabi saw dan setelahnya, orang-orang bebas mendengarkan perkataan istri-istri beliau. Tidak ada satu pun orang yang melarangnya.

Sementara itu, Dr. Ablah Muhammad al Kahlawi sendiri cenderung pada pendapat pertama. Hal tersebut disebabkan adanya kesesuaian dengan kodrat wanita yang mempunyai rasa malu lebih besar. Di samping itu, merendahkan suara di tengah-tengah laki-laki itu jauh lebih aman bagi diri seorang wanita, yaitu tidak memancing perhatian laki-laki.

Nah, mitra haji dan umrah, demikianlah beberapa hal yang perlu diperhatikan jamaah haji saat mengucapkan talbiyah. Jangan sampai ada yang mengucapkan talbiyah sendiri, padahal waktu bertalbiyah telah habis. Bisa-bisa kita menarik perhatian banyak orang karena mengucapkan talbiyah sendirian, sedangkan jamaah haji lainnya sudah tidak ada lagi yang mengucapkannya.

Kesalahan melakukan ibadah tidak pada waktunya seperti di atas bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, seorang jamaah shalat subuh yang dengan percaya dirinya melakukan shalat sunnah rawatib setelah shalat subuh. Padahal, ada ketentuan yang mengatakan bahwa waktu setelah subuh hingga terbit matahari dan antara waktu ashar dan maghrib merupakan waktu di antara dua tanduk setan. Tidak diperbolehkan shalat di antara kedua waktu tersebut.

Jadi, beribadah tidak cukup bermodalkan niat yang baik dan lurus. Namun, dibutuhkan pula ilmu untuk melakukan amal ibadah yang dimaksud, yaitu pengetahuan tentang tata cara melaksanakan ibadah tersebut. (RA)
SelengkapnyaEits! Jangan Salah Ucapkan Talbiyah
Posted by: Cheria Wisata

Pahala Pertama di masjid kuba

Posted by Unknown on Sunday, June 3, 2012

- Pahala umrah tidak hanya bisa didapatkan di Masjidil Haram. Di Madinah juga terdapat masjid yang memiliki pahala seperti umrah jika salat dua rakaat di dalamnya. Ya, nama masjid ini adalah Masjid Quba.

salam haji masjid kuba
Jamaah Salamhaji / cheria travel
                                                                                   
Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah saw. pada tahun 1 Hijriyah atau Senin 8 Rabiul Awwal (23 September) 622 Masehi di Quba, sekitar 5 km di sebelah tenggara kota Madinah. Di Madinah, Masjid Quba merupakan salah satu masjid yang sayang sekali untuk dilewatkan. Inilah masjidMpertama yang didirikan Nabi Muhammad SAW. Rasulullah saw yang mendesain masjid ini, bahkan ikut pula memikul batu bata dalam proses pembangunannya.Alquran surat At-taubah 108 mencatat bahwa Masjid Quba didirikan atas dasar takwa. “Sesungguhnya masjid itu yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut bagimu (Hai Muhammad) bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya terdapat orang-orang yang ingin membersihkan diri”. (Surat At-taubah : 108). Masjid dengan luas tanah sekitar 5.035 meter persegi ini awalnya merupakan tanah bekas kebun korma milik seorang sahabat Rasulullah saw. Ketika pertama dibangun, masjid ini hanya memiliki luas 1.200 meter persegi. Di sinilah tonggak pertama syiar Islam yang bakal menerangi seluruh dunia dengan cahaya Ilahi. Meskipun sangat sederhana, Masjid Quba boleh dianggap sebagai contoh bentuk dari pada masjid-masjid yang didirikan orang di kemudian hari. Bangunan yang sangat bersahaja itu sudah memenuhi syarat-syarat yang perlu untuk pendirian masjid. Ia sudah mempunyai suatu ruang yang persegi empat dan berdinding di sekelilingnya. Di sebelah utara dibuat serambi untuk tempat sembahyang yang bertiang pohon korma, beratap datar dari pelepah dan  daun korma, bercampurkan tanah liat. Di tengah-tengah ruang terbuka dalam masjid yang kemudian biasa disebut sahn, terdapat sebuah sumur tempat wudhu, mengambil air sembahyang. Kebersihan terjaga, cahaya matahari dan udara dapat masuk dengan leluasa.

Masjid ini memiliki 19 pintu. Dari 19 pintu itu terdapat tiga pintu utama dan 16 pintu. Tiga pintu utama berdaun pintu besar dan ini menjadi tempat masuk para jamaah ke dalam masjid. Dua pintu diperuntukkan untuk masuk para jamaah laki-laki sedangkan satu pintu lainnya sebagai pintu masuk jamaah perempuan. Diseberang ruang utama mesjid, terdapat ruangan yang dijadikan tempat belajar mengajar.


Ketika pembangunan Masjid ini selesai, Rasulullah saw mengimami shalat selama 20 hari. Semasa hidupnya, lelaki yang dijuluki Al-Amin ini selalu pergi ke Masjid Quba setiap hari Sabtu, Senin dan Kami.Setelah Rasulullah saw wafat, para sahabat menziarahi masjid ini dan melakukan salat di sana.( HR. Bukhari no. 1117 , HR. Muslim no. 2478). Diceritakan dalam hadist yang disampaikan ibnu Umar radiallahu anhu dan diriwayatkan bukhari. Nabi Muhammad SAW sering berjalanan kaki atau menunggang binatang tunggangan untuk berziarah di Masjid Quba pada hari Sabtu, kadang pada hari Senin. Dalam cerita yang lain, Rasulullah sering salat sunat di Masjid Quba untuk menunggu Sayyidina Ali, yang rumahnya berada di belakang masjid ini. Dalam hadist yang riwayatkan Tarmizi, Rasulullah pernah bersabda “barang siapa yang mengambil wudhu di rumahnya dan mendirikan salat di dalamnya, maka ganjarannya sama dengan umrah”. Menurut cerita, hadist ini keluar setelah warga Quba menyampaikan kepada Rasulullah bahwa warga Makkah sangat beruntung bisa melaksanakan umrah setiap waktu di masjidil haram. Jarak Madinah dengan Makkah sangat jauh. Dengan kendaraan bus saat ini saja ditempuh dengan lima jam perjalanan. Apalagi di Zaman Rasulullah SAW. Sehingga masyarakat Quba bisa mendapatkan pahala umrah setiap waktu dengan mendirikan salat di masjid ini.

           Dari kisah masjid Quba ini sungguh menambah kepercayaan kita akan keadilan Allah SWT kepada seluruh hambanya dalam memberikan kesempatan menggapai pahala-Nya.
Cr: arminarekasurabaya.wordpress.com, haji.okezone.com
SelengkapnyaPahala Pertama di masjid kuba
Posted by: Cheria Wisata

Travel Tour Wisata Muslim Umroh Haji ONH Plus Cheria