Showing posts with label tour mesir. Show all posts
Showing posts with label tour mesir. Show all posts

The Egyptian Museum, Rumah Koleksi Barang Antik Paling Kuno di Dunia

Posted by Unknown on Tuesday, November 13, 2012

Umrah plus Mesir - Berbicara tentang museum bukanlah hal yang asing lagi bagi kita. Namun, tidak semua orang tahu tentang museum yang satu ini, The Egypt Museum. Apa kelebihannya?

The Egyptian Museum atau yang lebih dikenal dengan Museum Mesir merupakan rumah koleksi barang antik yang paling kuno di dunia. Tak kurang dari 120.000 item potongan-potongan penting sejarah yang tersimpan di dalamnya. Tak hanya menjadi rumah bagi koleksi barang antik zaman Mesir kuno, tetapi museum ini juga merupakan rumah harta benda Raja Tutankhamen dan patung yang menarik.

The Egyptian Museum didirikan pada tahun 1251 H/1835 M. Saat itu, museum ini terletak di Taman Asbakiya. Namun, gedung tersebut rupanya tidak cukup untuk menampung koleksi yang ada. Museum pun dipindahkan ke Boulhaq pada tahun 1274 H/1858 M setelah pemberian artefak dari seorang bangsawan Austria, yaitu Maximilim. Seorang arsitek Perancis pun disewa untuk merancang dan membangun museum baru di tepi Sungai Nil.

Pada tahun 1878 M, museum ini mengalami kerusakan akibat banjir Sungai Nil. Selanjutnya, museum dipindahkan terakhir kalinya ke Istana Ismail Pasya di Giza. Baru pada tahun 1320 H/1902 M, museum itu menempati sebuah gedung megah berwarna merah di samping Middan Tahrir dan bertahan hingga kini.

Salah satu museum terbesar di dunia ini menyimpan koleksi terbesar dan paling berharga berupa artefak-artefak dari zaman Mesir kuno yang telah dikatalogkan dan beragam barang lain yang diatur secara kronologis menjadi tujuh bagian.

Di lantai dasar, kita bisa menemukan koleksi koin yang terbuat dari banyak unsure yang berbeda, seperti emas, perak, dan perunggu. Koin tersebut tidak hanya berasal dari Mesir, tetapi juga Yunani, Romawi, dan Islam, yang telah membantu sejarawan dalam meneliti sejarah kuno. Di lantai dasar juga terdapat artefak dari masa kerajaan baru antara tahun 1550 -1070 M. Artefak ini biasanya lebih besar dari barang-barang yang dibuat pada abad sebelumnya, misalnya patung-patung, meja, dan peti mati.

Memasuki lantai pertama searah putaran jam, hal pertama yang bisa disaksikan adalah berbagai pusaka historis Mesir Kuno dari Old Kingdom, Middle Kingdom, New Kingdom, hingga Kekaisaran Romawi. selain itu anda akan menyaksikan koleksi papyrus dan koin yang digunakan dizaman kuno,banyak potongan-potongan papyrus adalah fragmen-fragmen umumnya kecil.dibeberapa potongan itu pula ditemukan berbagai bahasa termasuk Yunani,Arab dan tulisan hileograf Mesir kuno.

Sederet koleksi dari masa prasejarah dan dinasti-dinasti awal Mesir dipamerkan di lantai dua. Di lantai itu juga bisa didapatkan beberapa koleksi berupa makam, termasuk makam Tuntukham yang berlapis emas.

Makam Raja Tutankhamun lebih baik dibandingkan makam lainnya. Hal ini disebabkan sebagian besar bagiannya masih utuh. Di dalam makam ini bisa ditemukan koleksi artefak yang besar. Artefak ini dulunya digunakan sepanjang hidup sang raja sampai akhir hayatnya. Artefak yang ada berkisar dari dada yang dihiasi. Kemungkinan artefak ini digunakan sebagai lemari atau koper, gading dan gelang emas, kalung dan lainnya. Makam ini juga dijadikan rumah bagi banyak senjata dan instrument yang digunakan oleh raja.

Meskipun memiliki lebih dari 3.500 artefak, makam ini sudah tidak lagi utuh. Setidaknya pernah terjadi dua kejadian berupa perampokan setelah pemakaman sang raja. Artefak yang paling terkenal di makam raja ini adalah Topeng Weight, yang dipercaya mewakili wajah raja. Ada pula benda-benda peninggalan seperti kereta perang, singgasana, skarfogus (keranda), patung-patung, perhiasan emas, topeng emas, senjata-senjata emas, serta banyak lainnya.selain itu pula terdapat peninggalan Fira’un berupa barang antik salah satunya Fir’aun Ramses III,dimana prajuritnya yang saat itu sangat terampil dan mengesankan.seperti yang telah digandakan dan disalin diseluruh dunia.

Banyak mumi lain yang relatif sulit untuk ditaksirkan kapan mereka dilahirkan. Setidaknya, para sejarawan hanya bisa menaksirkan waktu ketika mereka memerintah Mesir. Salah satunya tentang Amenhotep IV yang diperkirakan berkuasa pada tahun 1372 M. Setelah ayahnya meninggal Amenhotep IV mendapatkan sebuah mahkota di tepi sungai Nil sebelum dirinya menjadi Fir’aun. Ia sempat berkeinginan untuk menghancurkan agama Amun dengan maksud membuat dan mengembangkan agamanya sendiri.

Jika sahabat wisata muslim ingin melihat mumi para fir’aun, sahabat bisa melihatnya di ruangan khusus untuk mumi (Royal Mumi Room). Untuk memasukinya, pengunjung harus membayar tiket terlebih dahulu. Di ruang itu, sejumlah mumi dipamerkan dalam kotak bebas oksigen, termasuk mumi Ramsses II.

Disebabkan koleksi yang dimilikinya sudah penuh, museum ini rencananya akan dipindah ke kompleks piramida di Giza dan akan menempati sebuah gedung yang jauh lebih megah. Museum baru itu adalah Grand Egyptian Museum.

Nah, sahabat wisata muslim, itulah sepenggal kisah tentang Egyptian Museum. Sahabat bisa berkunjung langsung ke museum ini dengan beragam paket wisata. Salah satunya adalah paket umrah plus Kairo Mesir yang diadakan oleh Cheria Travel. Selamat berwisata. (Jang/RA)
SelengkapnyaThe Egyptian Museum, Rumah Koleksi Barang Antik Paling Kuno di Dunia
Posted by: Cheria Wisata

Kisah Jatuhnya Mesir Ke Tangan Muslimin

Posted by Unknown on Tuesday, October 2, 2012

alexandria-mesir
Berwisata ke Mesir? Jangan lupa untuk mengunjungi distrik Mesir Lama. Di daerah ini terdapat banyak bangunan historis Islam, salah satunya adalah Masjid Amr ibn al-Ash atau Masjid Fusthath. Masjid ini merupakan bagian dari peringatan dalam sejarah Islam yang mencatat peran besar Amr ibn al-Ash untuk menundukkan Mesir.

Sebelum memeluk Islam, Amr ibn Ash adalah seorang pedagang sukses di kota Alexandaria, yang menjadi pusat perniagaanya. Setelah memeluk Islam pada tahun 18 H/639 M, Amr ibn Ash diangkat oleh khalifah Umar ibn Al-Khattab menjadi Gubernur Palestina dan Yordania.

Pada saat Khalifah Umar melakukan perjalanan terakhir ke Suriah, Amr ibn Ash menunggu kedatangan sang Khalifah untuk membicarakan idenya untuk menguasai Mesir. Menurutnya, Mesir harus ditundukkan agar posisi pasukan kaum muslimin yang telah berhasil menundukan Suriah dan Yordania terlindungi, terutama dengan menundukan kota Alexandria. Hal itu disebabkan Alexandaria merupakan salah satu pangkalan kuat bangsa Romawi yang merajalela di Laut Tengah. Alexandria harus direbut, jika tidak, posisi pasukan kaum muslimin akan selalu menjadi bulan-bulanan angkatan laut Romawi yang menguasai Laut Mediterania.

Awalnya, Khalifah Umar enggan memenuhi permintaan sang jenderal. Menurutnya, penaklukan Mesir belum saatnya dilakukan. Namun, karena Amr ibn Ash mengemukakan idenya berulang-ulang, sang khalifah pun mengizinkannya dengan syarat hanya membawa 4.000 serdadu.

Mendengar keputusan tersebut, betapa gembiranya sang jenderal yang terkenal piawai di medan pertempuran itu. Ia pun segera membawa pasukan dari al-Arisy menuju Farma, yang terletak di tepi Laut Tengah. Setelah berhasil mengalahkan pasukan Romawi yang mencoba menghadangnya, sang jenderal mengarahkan pasukannya ke arah Benteng Babilonia. Benteng pun jatuh, begitu pula dengan wilayah Balbis dan Umm Danin.

Setelah beberapa saat beristirahat di dekat Benteng Babilonia, Amr meminta izin lagi untuk menaklukkan Alexandria, yang pada saat itu menjadi kota metropolis Byzantium yang berkebudayaan Yunani. Begitu izin sang Khalifah diterima, Amr ibn Ash pun menggerakkan pasukan kaum Muslimin untuk mengepungnya. Setelah pengepungan selama 14 bulan, pasukan terdepan yang berada di bawah komando Zubair ibn Awwan dan Maslamah ibn Mukhallad berhasil menjebol pertahanan kota tersebut. Alexandria jatuh pada tahun 20 H/ 640 M.

Usai menaklukkan pasukan Romawi, Amr ibn Ash menulis surat kepada khalifah yang berisi, ”Saya telah berhasil menundukan sebuah kota di ujung barat. Betapa banyak harta kekayaan kota ini hingga saya tidak kuasa menghitungnya. Di kota ini terdapat tidak kurang dari 4.000 pemandian Yahudi yang siap membayar jizyah dan 4.000 pemain musik dan tarian.”

Untuk menhindari serangan balasan pasukan Romawi dari luat, yang masih menguasai berbagai kawasan di luar Mesir, Umar memerintahkan Amr ibn Ash supaya tidak memilih Alexandria sebagai markasnya. Khalifah Umar khawatir jika pasukan kaum muslim mendapat gempuran dari Angkatan laut Romawi, yang kala itu menguasai laut tengah dan berpusat di Konstantinopel. Oleh karena itu, ia membuat kota baru yang bernama Futsthath sebagai ibukota wilayah tersebut.

Kota ke-3 yang dibangun kaum muslimin pada 22 H/643 M, selepas Basrah dan Kuffah, yakni Fusattum, yang semula dijadikan barak militer dan berada pada posisi 4 kilometer dari tepi sungai Nil. Selain itu, sebagai penanda keberhasilan bersejarah tersebut dan meneladani jejak Rasulullah SAW, didirikanlah sebuah Masjid. Inilah bangunan masjid yang kini lebih dikenal dengan Masjid Amr ibn al-Ash (Masjid Futsthath).

Menurut catatan sejarah, masjid ini merupakan bangunan ke-4 setelah Masjid Madinah, Kuffah, dan Basrah. Awalnya masjid ini sangat sederhana dengan panjang 25 meter, lebar 15 meter, dan dinaungi atap yang terbuat dari kayu, pelapah kurma, dan batang-batang pohon kurma. Saat itu, arah kiblat tidak sepenuhnya tepat sehingga diluruskan oleh Qurrah ibn Syarik. Masjid ini didirikan di tepi sungai Nil dan hanya memiliki 3 dinding.

Pada tahun 53 H/762 M, Masjid Futsthath direnovasi oleh Musalamah ibn Mukhallad yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Mesir pada pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan. Masjid tersebut diperluas dan temboknya dibuat dari batu bata. Selain itu ditambah empat buah menara di setiap sudutnya. Konon, menara-menara tersebut merupakan corak menara yang pertama kali dalam sejarah arsitektur Islam.

Selanjutnya, Masjid Futsthath diperindah oleh Abdul Aziz ibn Marwan, seorang penguasa Dinasti Umawiyyah. Pada tahun 93 H/710M, masjid ini kembali direnovasi oleh Qurrah ibn Syarik sehingga bertambah luas. Kali ini, tembok masjid dibuat menjulang tinggi dan atapnya dibuat dari kayu. Selain itu, beliau juga membuat mihrab berceruk untuk masjid ini. Inilah mihrab yang pertama kali dibuat di Mesir. Selanjutnya, masjid dilengkapi dengan sebuah mimbar kayu yang indah. Pembangunan kemudian diselesaikan oleh Shalih Ali, yang saat itu menjabat sebagai gubernur Mesir.

Seiring berjalannya waktu, Masjid Futsthath kembali mengalami renovasi, yang dilakukan oleh Abdullah ibn Thahir, Thughj Al-Ikhsyidi, Khalifah Al-Munthasir, hingga Shalahuddin al-Ayyubi. Setelah itu, renovasi kembali dilakukan oleh Murad Beik pada tahun 1213 H/1798 M dan berujung pada tahun 1342 H/1922 M. Menurut Prof.Dr.Husain Mu’nis dalam karyanya Al-Masajid, saat ini secara artistik Masjid Futsthath merupakan masjid yang sangat selaras dan terpadu. (RA) 

Masjid Fustath, Prasasti Pembebasan Mesir oleh Kaum Muslimin

SelengkapnyaKisah Jatuhnya Mesir Ke Tangan Muslimin
Posted by: Cheria Wisata

Tour Wisata Muslim Mediterania Alexandria Mesir

Posted by Unknown on Thursday, September 27, 2012

Ingin berkunjung ke kawasan gedung-gedung cantik dan megah di Mesir? Berkunjunglah ke El-Montazha Palace. Tulisan di bawah ini akan mencoba memberikan gambaran yang bisa menjadi alasan sahabat wisata muslim untuk berkunjung ke istana ini.

El-Montazha Palace terletak di sebelah timur kota Alexandria. Kawasan ini lebih dikenal dengan sebutan”mutiara mediterania”. Hal ini disebabkan karena selain memiliki 370 feddan, kawasan ini juga dihiasai dengan berbagai gedung cantik dan megah seperti Four Season Hotel, Ranaissance Alexandria Hotel, Metropole Hotel, Sofitel Cecil Alexandria Hotel, Windsor Palace Hotel, Hilton Alexandria Green Plaza, dan Sheraton Hotel Montazah.

El-Montazha Palace, Mutiara Mediterania
Selain tempat-tempat tersebut, El-Montazha Palace juga memiliki sebuah taman untuk anak-anak dan istana yang terdiri dari beberapa gedung, antara lain al-Salamlek Palace dan Al-Haramlek Palace.

Al-Salamlek Palace merupakan cikal-bakal El-Montazha Palace, yang didirikan oleh Khedive Abbas Helmi pada tahun 1309 H/1892 M sebagai istana berburu. Istana ini disiapkan untuk permaisurinya yang berdarah Hungaria-Austria:Gawidan Hanem Abdullah (Countess may-torok von Szendro).

Istana yang terletak di atas bukit ini berada di tepi Teluk Montazha dan dikelilingi hutan buatan yang dirancang seorang arsitek Yunani, Dimitri Fabricious. Pada tahun 1351 H/1932 M, istana as-Samlek Palace dilengkapi dengan sebuah gedung baru yang disebut al-Haramlek Palace. Gabungan kedua istana itu kemudian menjadi El-Montazha.

Jika dicermati, nama al-Haramlek diambil dari kata harim. Secara harfiah, harim berarti segala sesuatu yang tidak boleh diperkenankan dan dilarang. Kosakata itu kemudian masuk dalam khazanah bahasa Eropa, dengan sedikit perubahan menjadi harem.

Kosakata harim itu memiliki akar linguistik yang berkaitan dengan kota Makkah, sebagai tanah haram yang mengandung hak istimewa serta hukum-hukum tersendiri. Pada musim haji, perang (membunuh manusia) dan berburu hewan dilarang di tanah haram. Hal itu berlaku sebelum kedatangan Islam maupun sesudahnya.

Istana yang dibangun atas perintah Raja Fuad I yang pada waktu itu menjabat sebagai raja ke-9 dari Dinasti Muhammad Ali ini dilengkapi dengan taman seluas 350 acre. Saat Raja al-Faruq naik tahta, Istana El-Montazha kian dipercantik. Pada masa pemerintahan itulah jembatan yang menuju ke arah laut dibangun.

Pada tahun 1355 -1372 H/1936-1952 M, istana yang memiliki perpaduan berbagai unsur arsitektur Islam dan Eropa ini dipegang penuh oleh Raja Faruq, raja ke-10 dari Dinasti Muhammad Ali sekaligus raja terakhir bagi Mesir.

Al-Faruq adalah cucu Khedevile Ismail Pasya. Putera pasangan suami –istri Raja Fuad I dan Puteri Nazil Sabri ini lahir di Kairo, Mesir, pada tahun 1338 H/1920 M. Setelah menerima pendidikan secara pribadi, ia berupaya memasuki sekolah umum Inggris saat berumur 15 tahun. Namun, karena tidak diterima di perguruan Eton dan Royal military Academy di Woolwich,Inggris, ia menjadi siswa kelas sore.

Pendidikannya tidak berlangsung lama karena sang ayah wafat pada tahun 1355 H/1936 M. Ia pun kembali ke negerinya untuk menjadi orang nomor satu bergelar ”Yang Mulia Dipertuan Al-Faruq” dengan rahmat Allah Swt, Raja Mesir, Sudan, Penguasa Nubia, Kordofan, dan Darfur di bawah pengampunan sebuah majelis hingga tahun berikutnya

Al-Faruq sangat anti terhadap Partai Wafd, partai politik terbesar di Mesir yang pro-Inggris. Di sisi lain, saudara perempuannya, Puteri Fawzia Fuad, mantan permaisuri Syah Iran Muhammad Reza Pahlevi, ini juga terlibat perseteruan dengan Inggris.

Perseteruan tersebut memuncak ketika perang dunia II meletus, terutama ketika pasukan Jerman di bawah komando Marsekal Erwin Rommel bergerak maju dari gurun Sahara, bagian barat Mesir, menuju Alexandria. Akibatnya, Inggris pun menggerakan pasukannya untuk mengepung Istana Abidin di Kairo. Pasukan Inggris itu akhirnya memaksa Al-Faruq untuk memberi kesempatan kepada Partai Wafd agar memegang kendali pemerintahan.

Seusai perang dunia II, situasi politik Mesir semakin memanas. Apalagi setelah Mesir kalah dalam perang Arab—Israel pada tahun 1386 H/1948 H. Puncaknya, terjadi kudeta yang dilancarkan oleh Kolonel Gamal Abdul Nasser terhadap kekuasaan al-Faruq. Dengan tumbangnya keturunan Muhammad Ali Pasya yang berkuasa sejak 1220 H/1805 M tersebut, berakhirlah pemerintahan monarki di Mesir dan Mesir pun menjadi negara republik. Istana El-Montazha pun dijadikan sebagai aset negara. Selanjutnya, Anwar Sadat menjadikannya istana kepresidenan saat ia menjabat sebagai presiden Mesir.

Bagi sahabat wisata muslim tour mesir yang ingin berkunjung, El-Montazha Palace terletak sekitar 25 kilometer dari stasiun Alexandria. Di sana juga terdapat banyak tempat wisata berupa kebun, pantai, dan taman. Untuk masuk ke sana, wisatawan dikenakan biaya tiket. Untuk masuk ke taman kita bisa membayar sekitar E £ 5 dan pantai E £ 10. Jika ingin menginap, tersedia pula kamar dengan tarif 450 dollar atau lebih per malam pada musim panas. Bangunan ini benar-benar mewah, setara dengan hotel bintang 5 dan menawarkan pemandangan yang menakjubkan di garis pantai Mideterania. (RA)

SelengkapnyaTour Wisata Muslim Mediterania Alexandria Mesir
Posted by: Cheria Wisata

Tour Wisata Muslim Kairo Mesir 6D5N

Posted by Unknown on Friday, July 13, 2012

Wisata Mesir

Dengan peradaban yang telah dimulai sejak sekitar 7000 tahun yang lampau, Mesir menempatkan dirinya dalam urutan atas negara-negara tujuan wisata dunia. Hal ini tidak aneh, apalagi Pyramid dan Sphinx (salah satu dari tujuh keajaiban dunia) sudah ribuan tahun sebelum Masehi berdiri kokoh menjadi saksi bisu lahirnya peristiwa-peristiwa bersejarah di lembah Nil.

Jangan pula heran bila anda melangkah di negara ini, setiap jengkal tanah yang dipijak akan mengisahkan peristiwa sejarah tersendiri, begitulah kira-kira. Seakan-akan kita sedang berjalan menelusuri sebuah museum raksasa yang menyimpan ribuan peninggalan sejarah berbagai peradaban, mulai dari Mesir kuno (coptic), Fir'aun (pharaoh), Yunani (Hellenisme), romawi hingga peradaban Islam yang pernah ada dan berkembang di negeri Ardhul Kinanah ini.

Bagi Anda yang ingin menikmati ini semua silahkan mengikuti tour wisata Mesir bersama Cheria Travel.





Kairo + Alexandria + Sinai

Hari 1

Tiba di Bandara Internasional Kairo, langsung menuju ke Hotel untuk Check In dan beristirahat. (D)


Cairo International Airport


Hari 2

Setelah sarapan di hotel, mengunjungi museum Mesir, Piramid, Sphinx, Kuil Amenhotep 1401 sebelum masehi, tulisan kerajaan dari Tuhutmois 4 1480 sebelum masehi seberat 2000 kg, benteng Salahulddin dari tahun 1182 dan Masjid Pualam Mohammed Ali. (B/L/D)


Masjid Pualam Mohammed Ali



Egyptian Museum of Cairo

Hari 3


Setelah sarapan di hotel, menuju kota Alexandria, Catacomb (Monumen bangsa Roma + caracarla), Taman Montazah di Istana Raja Farouk, Benteng Qiet Ba dari luar, Masjid Elmorsi Abu Elabas dan makam Nabi. Kembali ke Kairo. (B/L/D)


Catacomb



Royal Park Montazah


Hari 4

Hari ini mengunjungi Sinai yang disebutkan di Kitab Suci Al Qur’an dalam surah At - Tin ayat 2, melihat terusan Suez, lalu 12 Mata air Sama 70 pohon kurma Nabi Musa yang dijelaskan di Al Qur’an dalam surah Al Maidah ayat 5. Juga mengunjungi tempat Nabi Musa sewaktu mengalahkan suku Amalik dan melihat kamar mandi Fir’aun yang dikatakan bahwa airnya bagus untuk menyembuhkan sakit kulit atau rematik. Kembali ke hotel.


Gunung Sinai


Terusan Suez Mesir

Hari 5

Pukul 2 pagi bangun untuk melihat pemandangan Gunung Al Tur, setelah itu kembali ke hotel untuk sarapan dan pergi untuk mengunjungi pohon Nabi Musa dan monumen sapi emas. Kembali ke Kairo.



Kisah Samiri

Hari 6

Setelah sarapan di hotel, lanjut tour seharian penuh di Kairo mengunjungi Masjid El-Sayada Zainab dan Masjid Azhar yang mana merupakan Masjid pertama yang didirikan di Kairo, kota yang dijuluki Ribuan Menara. Lalu mengunjungi Masjid Hussein, Makam Imam Syafii lalu makan siang di Restoran Cina dan langsung menuju Bandara Internasional Kairo untuk keberangkatan pulang ke Jakarta. (B/L)



Masjid Hussein



Masjid Azhar

SelengkapnyaTour Wisata Muslim Kairo Mesir 6D5N
Posted by: Cheria Wisata

Travel Tour Wisata Muslim Umroh Haji ONH Plus Cheria