Showing posts with label wisata alexandria. Show all posts
Showing posts with label wisata alexandria. Show all posts

Masjid Abu Abbas al-Mursi

Posted by Unknown on Tuesday, November 27, 2012


Umrah plus Mesir - Masjid ini terletak di kawasan Anfoushi, Alexandria, yang dibangun atas nisbat seorang sufi terkemuka, yaitu Abu Al-Abbas al-Murcia asal Spanyol. Nama lengkap beliau adalah Abu al-Abbas Ahmad ibn Umar ibn Muhammad Al-Mursi.

Selepas menimba ilmu di Andalusia, Abu Abbas menapakkan kakinya ke daerah Ceuta, Maroko. Selanjutnya, langkah-langkah kakinya mengantarkannya ke Tunisia. Di sanalah ia bertemu dengan pendiri tarekat Syadziliyyah, yang saat itu dipimpin oleh Abu Hasan asy-Syadzili. Setelah cukup menimba ilmu al-Mursi dan gurunya, asy-Syadzili, meneruskan perjalanan menuju Kairo dan Alexandria. Di kota inilah mereka menetap.

Pada tahun 656 H/1258 M, al-Mursi bersama sang guru bertolak ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji dengan melintasi Gurun Aidzab. Ketika mereka berada di suatu tempat bernama Humaitsarah, sang guru jatuh sakit dan wafat. Abu Hasan asy-Syadzili sempat berpesan kepada murid-muridnya bahwa ia menunjuk al-Mursi sebagai penggantinya dalam menyebarluaskan ajaran-ajaran tarekat Syadziliyyah.

Awalnya, masjid ini dibangun oleh Syaikh Zainuddin Al-Qathathan pada 706 H/1307 M, seorang pedagang kaya dari Alexandria. Sebelum mendirikan masjid, beliau pernah berziarah ke makam asy-Syadzili dan memerintahkan bawahannya untuk membangun kuburan dan masjid kecil serta membiayai sang imam. Masjid ini menjadi tempat ziarah banyak umat muslim dari Mesir dan Maghribi yang melalui Alexandria pada saat berangkat haji ke Makkah.

Meskipun pada tahun 1477 M masjid ini dalam keadaan tidak layak pakai, tetapi penguasa Alexandria tetap berkunjung ke makam tersebut. Setelah itu, ia memerintahkan agar masjid tersebut segera dipugar.

Pada tahun 1596 M, masjid itu direnovasi lewat Syeikh Abdul Abbas al-Khawrizmy. Pada tahun 1863 M, penguasa terkenal Alexandria, Ahmed el-Kakhakhy, merenovasi dengan memperluas areal masjid tersebut. Masjid kecil itu terakhir dipugar atas perintah Raja al-Faruq yang berusaha membuat Alexandria menjadi “Permata dari Mideterania”.

Di sana ia membangun sebuah lapangan (Midan el-Masaged atau medan masjid) seluas 43.200 meter persegi. Masjid Abu Abbas al-Mursi menjadi titik fokus dan pusat yang dikelilingi lima masjid lainnya, di ataranya Masjid al-Busiri dan Yaqut al-Ashri.

Pada tahun 1362 H/1943 M, pemugaran dilakukan di bagian depan kompleks tersebut. Kali ini pemugaran dirancang dan dilakukan atas arahan seorang arsitek asal italia yang bernama Mario Rossi. Ia lahir di Roma, Italia, pada tahun 1316H/1898 M. Ia bertolak ke Mesir ketika masih muda atas permintaan Raja Fuad untuk dipekerjakan di kementerian perkerjaan umum dan istana. Arsitek Italia ini mampu beradaptasi dengan cepat dan menyerap berbagai tradisi kebudayaan Islam di Mesir dalam bidang yang ia digeluti, yaitu arsitektur.

Mario Rossi kemudian memeluk islam dan meninggal dunia di Kairo pada 1381 H/1961 M. Ia meninggalkan sederet karya khazanah arsitektur, baik berupa tulisan maupun bangunan yang tidak ternilai. Selain itu, ia juga meninggalkan sejumlah murid berbakat di bidang arsitektur seperti Ali Tsabit dan Ali Khairat yang menyusun sejumlah buku tentang sejarah arsitektur masjid di Mesir modern.

Arsitek yang merancang sekitar 260 masjid, termasuk Masjid Umar Makram di Kairo, Masjid Stasiun el-Raml di Alexandria, dan Islamic center di Wasinghton D.C., USA, itu juga melengkapi Masjid Abu Abbas al-Mursi dengan sebuah kubah yang tinggi menjulang hingga mencapai 26 meter. Di bagian dalam kubah tersebut terdapat kepingan seni yang dihiasi lampu gantung raksasa yang setara dengan lampu gantung Masjid Muhammad Ali di Kairo. Agar kubah tersebut bisa menahan lampu dengan berat beberapa ton yang terbuat dari perpaduan perunggu, kuningan, dan Kristal, Mario Rossi memperkuat dasar kubah tersebut dengan delapan penyangga granit berwarna merah muda yang dibuat di Italia. Bagian kubah itu sendiri diberi dekorasi dengan ornamen ukiran batu.

Di sisi lain, di atas tiang-tiang tersebut, terdapat lengkung-lengkung lancip yang tinggi menjulang. Gaya lengkung tersebut hasil kreatifitas Rossi, yang kemudian diikuti banyak masjid lainnya. Sebagai contoh, bagian dari Masjid Nabawi yang dipugar Raja Abdul Aziz as-Saud.

Dinding Masjid al-Mursi mencapai 23 meter dengan batu buatan, sementara menara yang terletak di sudut selatan dirubah naik 73 meter dengan desain Ayoubids yakni 15 meter dalam bentuk persegi, 4 meter dengan delapan sisi,15 meter dengan enam belas sisi, dan terakhir bentuk atas 3,25 meter melingkar. Bagian atas menara ditutupi dengan kuningan dan memiliki fianale Islam.

Masjid ini memiliki dua pintu masuk utama, satu menghadap ke alun-alun dan lainnya menghadap istana kerajaan di Rastimah. Selain itu, masjid ini memiliki oktagon dengan ukuran 22 meter dan didukung 16 kolom lengkungan-lengkungan yang terbuat dari granit Italian. Kolom itu berbentuk persegi delapan dengan tinggi 8,60 meter. Di tengah-tengah langit masjid terdapat langit yang ditinggikan dengan delapan sisi dan tiga jendela kaca dengan desain arabesque. Terakhir adalah mimbar dan jendela yang terbuat dari jati yang telah diukir dengan ukuran 6,35 meter serta mihrab yang terukir ayat-ayat al-Quran yang terbuat dari emas Perancis.

Inilah sekilas gambaran tentang masjid Abu Abbas al-Mursi, seorang pendiri tarekat Syadziliyyah. Sahabat wisata muslim bisa mengunjungi masjid tersebut yang terletak di Anfoushi, Alexandria. Ingin berwisata sambil mentadaburi keagungan kekuasaan Allah swt di negeri-negeri muslim, sahabat bisa mengikuti paket wisata muslim yang diselenggarakan oleh Cheria Travel. Selamat berwisata! (Jng/RA)











Selengkapnya Masjid Abu Abbas al-Mursi
Posted by: Cheria Wisata

Alexandria dan Misteri Makam Alexander Agung

Posted by Unknown

Umrah plus Mesir – Sahabat wisata muslim tentu tidak asing dengan nama Alexander the Great atau Alexander yang agung, bukan? Ya, dia adalah seorang penguasa sekaligus ahli perang yang hebat di zamannya. Jika sahabat mengunjungi Mesir, di negeri inilah letak makam dari tokoh besar ini. Menariknya, ada sebuah kisah seru yang melatarbelakangi penguburan Alexander di bumi Mesir ini. Ingin tahu ceritanya? Mari kita simak bersama.

Sejarah mencatat, Alexander Agung lahir pada 20 Juni 356 SM. Putera pasangan suami-istri Raja Macedonia, Fillipus II dan Olympias, ini menggantikan kedudukan ayahnya pada tahun 336 SM. Tidak lama setelah naik tahta, ia menghadapi masalah besar ,yaitu pemberontakan Athena dan Thebes. Namun, pemberontakan itu berhasil ia padamkan dengan gemilang. Bahkan selanjutnya, ia melakukan ekspansi militer ke berbagai kawasan Persia, Mesir, dan India.

Ketika berada di Babilonia, Alexander Agung jatuh sakit dan akhirnya wafat pada tanggal 10 Juni 323 SM. Kala itu, usianya sekitar 33 tahun. Ia meninggalkan wilayah kekuasaan yang membentang luas di tiga benua, yaitu Eropa, Asia, dan Afrika. Sayangnya, ketiadaan ahli waris menyebabkan timbulnya perpecahan dan pertempuran di antara para jendral Alexander.

Pada saat itu, Aristander—penasihat spiritual utama Alexander—menyatakan bahwa negeri yang menjadi tempat Alexander dikebumikan akan bernasib baik. Ramalan ini kian memicu persaingan yang membara di antara para jendral. Sebelum meninggal, Alexander agung pernah berpesan agar jenazahnya dikebumikan di sebuah kuil dewa Amon Ra, diujung Oasis Siwa yang terletak di gurun pasir Mesir-Libya. Kuil itu pernah ia kunjungi pada tahun 331 SM setelah berhasil membebaskan Mesir dari tangan pasukan Persia. Konon, para pendeta kuil tersebut telah meramalkan pula kedatangan dan menyambutnya sebagai putra Ammon, sebuah pengakuan atas kewibawaannya.

Perdicas, seorang jendral yang sangat loyal terhadap ayah Alexander, Filippus II, dan menaruh perhatian besar terhadap ramalan Arsitander, menentang wasiat Alexander. Bukannya membawa jenazah Alexander ke Siwa, Perdicas justru memerintahkan supaya jenazah Alexander dibawa ke Macedonia untuk dikebumikan di Aegea, di lingkungan makam keluarga kekaisaran Macedonia.

Namun, pada saat iring-iringan jenazah itu tiba di Issum (kini Iskendrun, Turki) terjadilah sabotase tidak berdarah atas iring-iringan tersebut. Ketika itu Ptolomeus, sebagai penguasa Mesir, datang dengan pasukannya untuk mencegat iring-iringan tersebut.

Dalam bukunya yang berjudul Alexander the Great Mistery, T. Peter, seorang pakar sejarah Yunani, menjelaskan bahwa Ptolomeus kemudian memaksa iring-iringan tersebut beralih arah menuju ke selatan, yaitu Mesir. Meskipun sekilas tampak bahwa ia bermaksud memenuhi pesan pribadi Alexander, tetapi Ptoloemus sejatinya tidak ingin jenazah Alexander dikebumikan di Siwa. Ptolomeus ingin jenazah Alexander dikebumikan di Alexandria. Namun, karena mausoleum untuk sang raja belum dibangun di Alexandria, Ptoloemus kemudian mengebumikan jenazah sang kaisar selama beberapa tahun di Memphis, ibukota lama kerajaan Mesir.

Di Babilonia, Predicas mendengar kabar itu dan ia pun langsung bertolak ke Mesir bersama pasukannya untuk memberikan hukuman dan membawa kembali jenazah Alexander Agung. Namun di tengah perjalanan, ia dibunuh oleh beberapa perwiranya yang disuap oleh Ptoloemus. Sementara jendral-jendral yang lain tidak ada yang tergerak untuk memindahkan Jenazah Alexander dari Mesir. Pada saat mauseloum di Alexandria telah siap, jenazah Alexander pun dipindahkan ke kota itu dan dikebumikan disana.

Itulah kisah di balik pemakaman Alexander Agung di Sema (Alexandria-Mesir), bukan di Macedonia (Yunani). Di sisi lain, kota penuh pasir putih yang indah dan elok ini memang memiliki sejarah panjang. Menurut torehan sejarah, Alexandria adalah kota yang dibangun Alexander Agung, di mana penguasa penakluk tiga benua ini ingin mengabadikan penaklukannya pada tahun 332 SM, pada sebuah Megapolis baru yang ia bangun. Cikal bakal kota itu sendiri didirikan di desa Rakhotis.

Setelah sang pendiri kota ini berpulang, Ptolomeus I yang bergelar Soter, tampil sebagai penguasa baru yang menggantikan Alexander Agung. Ia pun memerintahkan seorang arsitek terkemuka Yunani, Dinocrates, untuk merancang secara cermat kota Alexandria baru. Kala itu, kota Alexandria dilengkapi dengan dua jalan raya mulus selebar seratus kaki. Pusat kota yang terletak di kawasan Brukhion ini dilengkapi dengan sederet kuil, gedung teater, gedung pemerintahan, istana kaisar, kebun binatang, museum, dan perpustakaan.

Selain itu, Alexandria juga diuntungkan dengan tumbangnya pusat kekuasaan di Phoenicia. Ditambah dengan tumbuhnya perdagangan dengan berbagai kawasan di Eropa, Alexandria berkembang dengan cepat menjadi kota Metropolis. Tidak heran bila pada masa itu banyak ilmuwan dan cendikiawan yang datang seperti Aristrachus, Archimedes, Hirophilus, dan Euclides. Kota ini juga menjadi pusat ilmu pengetahuan kaum Yahudi.

Posisi Alexandria yang strategis menjadikannya kota paling memikat di dunia. Selama tiga abad, kota ini meraih prestasi sebagai pusat kebudayaan terpenting di dunia. Alexandria bak rumah bagi beragam bangsa yang menganut berbagai agama dan pemikiran. Selain itu, kota ini menjadi pusat kekaisaran Yunani serta pusat perkembangan ilmu dan perdagangan. Tidak heran bila pada puncak keemasannya, para pakar matematika dan cendekiawan berdatangan ke kota itu, terutama untuk menikmati perpustakaan Alexandria.

Kemajuan yang dicapai Alexandria berakhir dengan runtuhnya kekuasaan dinasti Ptolomeus pada 305-30 SM. Meredupnya Alexandria ditandai dengan tragedi pembakaran perpustakaan Alexandria oleh pasukan Julius Caesar yang datang ke Mesir pada 48 SM. Ketika itu, pasukan Caesar berhadapan dengan pasukan Mesir dibawah kendali Achillas di pantai Alexandria. Perang besar pun tidak terelakan. Berdasarkan catatan Seneca, sejarawan yang andil dalam ekspedisinya, tidak kurang dari 400 ribu buku terbakar dalam tragedi tersebut. Belakangan, Caesar meminta maaf atas kejadian itu. Sebagai gantinya, Marcus Antonius yang datang setelah Caesar menghadiahkan sekitar 200.000 buku dari Roma kepada penguasa Alexandria, Cleopatra VII Philopator.

Pengaruh Romawi atas Alexandria kian menyurut pada 415 M. Dua abad kemudian, kota ini jatuh ke tangan pasukan Persia. Setelah beralih di bawah naungan kaum muslimin pada 21 H/642 M, Alexandria menjadi pusat perdagangan tekstil dan barang-barang mewah hingga saat ini. (Jng/RA)
Selengkapnya Alexandria dan Misteri Makam Alexander Agung
Posted by: Cheria Wisata

Kisah Jatuhnya Mesir Ke Tangan Muslimin

Posted by Unknown on Tuesday, October 2, 2012

alexandria-mesir
Berwisata ke Mesir? Jangan lupa untuk mengunjungi distrik Mesir Lama. Di daerah ini terdapat banyak bangunan historis Islam, salah satunya adalah Masjid Amr ibn al-Ash atau Masjid Fusthath. Masjid ini merupakan bagian dari peringatan dalam sejarah Islam yang mencatat peran besar Amr ibn al-Ash untuk menundukkan Mesir.

Sebelum memeluk Islam, Amr ibn Ash adalah seorang pedagang sukses di kota Alexandaria, yang menjadi pusat perniagaanya. Setelah memeluk Islam pada tahun 18 H/639 M, Amr ibn Ash diangkat oleh khalifah Umar ibn Al-Khattab menjadi Gubernur Palestina dan Yordania.

Pada saat Khalifah Umar melakukan perjalanan terakhir ke Suriah, Amr ibn Ash menunggu kedatangan sang Khalifah untuk membicarakan idenya untuk menguasai Mesir. Menurutnya, Mesir harus ditundukkan agar posisi pasukan kaum muslimin yang telah berhasil menundukan Suriah dan Yordania terlindungi, terutama dengan menundukan kota Alexandria. Hal itu disebabkan Alexandaria merupakan salah satu pangkalan kuat bangsa Romawi yang merajalela di Laut Tengah. Alexandria harus direbut, jika tidak, posisi pasukan kaum muslimin akan selalu menjadi bulan-bulanan angkatan laut Romawi yang menguasai Laut Mediterania.

Awalnya, Khalifah Umar enggan memenuhi permintaan sang jenderal. Menurutnya, penaklukan Mesir belum saatnya dilakukan. Namun, karena Amr ibn Ash mengemukakan idenya berulang-ulang, sang khalifah pun mengizinkannya dengan syarat hanya membawa 4.000 serdadu.

Mendengar keputusan tersebut, betapa gembiranya sang jenderal yang terkenal piawai di medan pertempuran itu. Ia pun segera membawa pasukan dari al-Arisy menuju Farma, yang terletak di tepi Laut Tengah. Setelah berhasil mengalahkan pasukan Romawi yang mencoba menghadangnya, sang jenderal mengarahkan pasukannya ke arah Benteng Babilonia. Benteng pun jatuh, begitu pula dengan wilayah Balbis dan Umm Danin.

Setelah beberapa saat beristirahat di dekat Benteng Babilonia, Amr meminta izin lagi untuk menaklukkan Alexandria, yang pada saat itu menjadi kota metropolis Byzantium yang berkebudayaan Yunani. Begitu izin sang Khalifah diterima, Amr ibn Ash pun menggerakkan pasukan kaum Muslimin untuk mengepungnya. Setelah pengepungan selama 14 bulan, pasukan terdepan yang berada di bawah komando Zubair ibn Awwan dan Maslamah ibn Mukhallad berhasil menjebol pertahanan kota tersebut. Alexandria jatuh pada tahun 20 H/ 640 M.

Usai menaklukkan pasukan Romawi, Amr ibn Ash menulis surat kepada khalifah yang berisi, ”Saya telah berhasil menundukan sebuah kota di ujung barat. Betapa banyak harta kekayaan kota ini hingga saya tidak kuasa menghitungnya. Di kota ini terdapat tidak kurang dari 4.000 pemandian Yahudi yang siap membayar jizyah dan 4.000 pemain musik dan tarian.”

Untuk menhindari serangan balasan pasukan Romawi dari luat, yang masih menguasai berbagai kawasan di luar Mesir, Umar memerintahkan Amr ibn Ash supaya tidak memilih Alexandria sebagai markasnya. Khalifah Umar khawatir jika pasukan kaum muslim mendapat gempuran dari Angkatan laut Romawi, yang kala itu menguasai laut tengah dan berpusat di Konstantinopel. Oleh karena itu, ia membuat kota baru yang bernama Futsthath sebagai ibukota wilayah tersebut.

Kota ke-3 yang dibangun kaum muslimin pada 22 H/643 M, selepas Basrah dan Kuffah, yakni Fusattum, yang semula dijadikan barak militer dan berada pada posisi 4 kilometer dari tepi sungai Nil. Selain itu, sebagai penanda keberhasilan bersejarah tersebut dan meneladani jejak Rasulullah SAW, didirikanlah sebuah Masjid. Inilah bangunan masjid yang kini lebih dikenal dengan Masjid Amr ibn al-Ash (Masjid Futsthath).

Menurut catatan sejarah, masjid ini merupakan bangunan ke-4 setelah Masjid Madinah, Kuffah, dan Basrah. Awalnya masjid ini sangat sederhana dengan panjang 25 meter, lebar 15 meter, dan dinaungi atap yang terbuat dari kayu, pelapah kurma, dan batang-batang pohon kurma. Saat itu, arah kiblat tidak sepenuhnya tepat sehingga diluruskan oleh Qurrah ibn Syarik. Masjid ini didirikan di tepi sungai Nil dan hanya memiliki 3 dinding.

Pada tahun 53 H/762 M, Masjid Futsthath direnovasi oleh Musalamah ibn Mukhallad yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Mesir pada pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan. Masjid tersebut diperluas dan temboknya dibuat dari batu bata. Selain itu ditambah empat buah menara di setiap sudutnya. Konon, menara-menara tersebut merupakan corak menara yang pertama kali dalam sejarah arsitektur Islam.

Selanjutnya, Masjid Futsthath diperindah oleh Abdul Aziz ibn Marwan, seorang penguasa Dinasti Umawiyyah. Pada tahun 93 H/710M, masjid ini kembali direnovasi oleh Qurrah ibn Syarik sehingga bertambah luas. Kali ini, tembok masjid dibuat menjulang tinggi dan atapnya dibuat dari kayu. Selain itu, beliau juga membuat mihrab berceruk untuk masjid ini. Inilah mihrab yang pertama kali dibuat di Mesir. Selanjutnya, masjid dilengkapi dengan sebuah mimbar kayu yang indah. Pembangunan kemudian diselesaikan oleh Shalih Ali, yang saat itu menjabat sebagai gubernur Mesir.

Seiring berjalannya waktu, Masjid Futsthath kembali mengalami renovasi, yang dilakukan oleh Abdullah ibn Thahir, Thughj Al-Ikhsyidi, Khalifah Al-Munthasir, hingga Shalahuddin al-Ayyubi. Setelah itu, renovasi kembali dilakukan oleh Murad Beik pada tahun 1213 H/1798 M dan berujung pada tahun 1342 H/1922 M. Menurut Prof.Dr.Husain Mu’nis dalam karyanya Al-Masajid, saat ini secara artistik Masjid Futsthath merupakan masjid yang sangat selaras dan terpadu. (RA) 

Masjid Fustath, Prasasti Pembebasan Mesir oleh Kaum Muslimin

SelengkapnyaKisah Jatuhnya Mesir Ke Tangan Muslimin
Posted by: Cheria Wisata

Tour Wisata Muslim Mediterania Alexandria Mesir

Posted by Unknown on Thursday, September 27, 2012

Ingin berkunjung ke kawasan gedung-gedung cantik dan megah di Mesir? Berkunjunglah ke El-Montazha Palace. Tulisan di bawah ini akan mencoba memberikan gambaran yang bisa menjadi alasan sahabat wisata muslim untuk berkunjung ke istana ini.

El-Montazha Palace terletak di sebelah timur kota Alexandria. Kawasan ini lebih dikenal dengan sebutan”mutiara mediterania”. Hal ini disebabkan karena selain memiliki 370 feddan, kawasan ini juga dihiasai dengan berbagai gedung cantik dan megah seperti Four Season Hotel, Ranaissance Alexandria Hotel, Metropole Hotel, Sofitel Cecil Alexandria Hotel, Windsor Palace Hotel, Hilton Alexandria Green Plaza, dan Sheraton Hotel Montazah.

El-Montazha Palace, Mutiara Mediterania
Selain tempat-tempat tersebut, El-Montazha Palace juga memiliki sebuah taman untuk anak-anak dan istana yang terdiri dari beberapa gedung, antara lain al-Salamlek Palace dan Al-Haramlek Palace.

Al-Salamlek Palace merupakan cikal-bakal El-Montazha Palace, yang didirikan oleh Khedive Abbas Helmi pada tahun 1309 H/1892 M sebagai istana berburu. Istana ini disiapkan untuk permaisurinya yang berdarah Hungaria-Austria:Gawidan Hanem Abdullah (Countess may-torok von Szendro).

Istana yang terletak di atas bukit ini berada di tepi Teluk Montazha dan dikelilingi hutan buatan yang dirancang seorang arsitek Yunani, Dimitri Fabricious. Pada tahun 1351 H/1932 M, istana as-Samlek Palace dilengkapi dengan sebuah gedung baru yang disebut al-Haramlek Palace. Gabungan kedua istana itu kemudian menjadi El-Montazha.

Jika dicermati, nama al-Haramlek diambil dari kata harim. Secara harfiah, harim berarti segala sesuatu yang tidak boleh diperkenankan dan dilarang. Kosakata itu kemudian masuk dalam khazanah bahasa Eropa, dengan sedikit perubahan menjadi harem.

Kosakata harim itu memiliki akar linguistik yang berkaitan dengan kota Makkah, sebagai tanah haram yang mengandung hak istimewa serta hukum-hukum tersendiri. Pada musim haji, perang (membunuh manusia) dan berburu hewan dilarang di tanah haram. Hal itu berlaku sebelum kedatangan Islam maupun sesudahnya.

Istana yang dibangun atas perintah Raja Fuad I yang pada waktu itu menjabat sebagai raja ke-9 dari Dinasti Muhammad Ali ini dilengkapi dengan taman seluas 350 acre. Saat Raja al-Faruq naik tahta, Istana El-Montazha kian dipercantik. Pada masa pemerintahan itulah jembatan yang menuju ke arah laut dibangun.

Pada tahun 1355 -1372 H/1936-1952 M, istana yang memiliki perpaduan berbagai unsur arsitektur Islam dan Eropa ini dipegang penuh oleh Raja Faruq, raja ke-10 dari Dinasti Muhammad Ali sekaligus raja terakhir bagi Mesir.

Al-Faruq adalah cucu Khedevile Ismail Pasya. Putera pasangan suami –istri Raja Fuad I dan Puteri Nazil Sabri ini lahir di Kairo, Mesir, pada tahun 1338 H/1920 M. Setelah menerima pendidikan secara pribadi, ia berupaya memasuki sekolah umum Inggris saat berumur 15 tahun. Namun, karena tidak diterima di perguruan Eton dan Royal military Academy di Woolwich,Inggris, ia menjadi siswa kelas sore.

Pendidikannya tidak berlangsung lama karena sang ayah wafat pada tahun 1355 H/1936 M. Ia pun kembali ke negerinya untuk menjadi orang nomor satu bergelar ”Yang Mulia Dipertuan Al-Faruq” dengan rahmat Allah Swt, Raja Mesir, Sudan, Penguasa Nubia, Kordofan, dan Darfur di bawah pengampunan sebuah majelis hingga tahun berikutnya

Al-Faruq sangat anti terhadap Partai Wafd, partai politik terbesar di Mesir yang pro-Inggris. Di sisi lain, saudara perempuannya, Puteri Fawzia Fuad, mantan permaisuri Syah Iran Muhammad Reza Pahlevi, ini juga terlibat perseteruan dengan Inggris.

Perseteruan tersebut memuncak ketika perang dunia II meletus, terutama ketika pasukan Jerman di bawah komando Marsekal Erwin Rommel bergerak maju dari gurun Sahara, bagian barat Mesir, menuju Alexandria. Akibatnya, Inggris pun menggerakan pasukannya untuk mengepung Istana Abidin di Kairo. Pasukan Inggris itu akhirnya memaksa Al-Faruq untuk memberi kesempatan kepada Partai Wafd agar memegang kendali pemerintahan.

Seusai perang dunia II, situasi politik Mesir semakin memanas. Apalagi setelah Mesir kalah dalam perang Arab—Israel pada tahun 1386 H/1948 H. Puncaknya, terjadi kudeta yang dilancarkan oleh Kolonel Gamal Abdul Nasser terhadap kekuasaan al-Faruq. Dengan tumbangnya keturunan Muhammad Ali Pasya yang berkuasa sejak 1220 H/1805 M tersebut, berakhirlah pemerintahan monarki di Mesir dan Mesir pun menjadi negara republik. Istana El-Montazha pun dijadikan sebagai aset negara. Selanjutnya, Anwar Sadat menjadikannya istana kepresidenan saat ia menjabat sebagai presiden Mesir.

Bagi sahabat wisata muslim tour mesir yang ingin berkunjung, El-Montazha Palace terletak sekitar 25 kilometer dari stasiun Alexandria. Di sana juga terdapat banyak tempat wisata berupa kebun, pantai, dan taman. Untuk masuk ke sana, wisatawan dikenakan biaya tiket. Untuk masuk ke taman kita bisa membayar sekitar E £ 5 dan pantai E £ 10. Jika ingin menginap, tersedia pula kamar dengan tarif 450 dollar atau lebih per malam pada musim panas. Bangunan ini benar-benar mewah, setara dengan hotel bintang 5 dan menawarkan pemandangan yang menakjubkan di garis pantai Mideterania. (RA)

SelengkapnyaTour Wisata Muslim Mediterania Alexandria Mesir
Posted by: Cheria Wisata

Perpustakaan Alexandria Rumah Para Cendikiawan Kelas Dunia

Posted by Unknown on Friday, September 21, 2012

Perpustakaan Alexandria atau Iskandariyah berbentuk silinder miring. Perpustakaan ini diresmikan pada tahun 1423 H/2002 M. Gedung ini berdiri di dekat perpustakaan lama yang didirikan pada awal ke-3 SM pada masa pemerintahan Kuil Muses. tujuannya untuk menarik orang-oarng bijak dari berbagai belahan dunia agar datang ke Mesir.

Konon, perpustakaan itu memiliki 500 ribu gulungan papyrus. Sebagai perbandingan, pada abad ke-14 M, Perpustakaan Sorbonne, Paris, yang katanya memiliki koleksi terbesar di zamannya hanya memiliki 1.700 buku.

Beberapa koleksi yang berharga adalah syair-syair karya Homer dan Hesoid. Ada pula naskah-naskah drama karya Sophocles, Euripides, dan Aristophanes. Di samping itu, terdapat pula buku-buku filsafat karya Plato dan Aristoteles, buku-buku sejarah karya Hecteus dan Herodotus, serta buku-buku kedokteran Medicine Corpus of Hipporactes dan Herophilus.

Para penguasa Mesir kala itu begitu bersemangat untuk memperbanyak koleksi literatur mereka. Sampai-sampai, mereka memerintahkan para prajurit untuk menggeledah setiap kapal yang masuk guna memperoleh sebuah naskah. Jika menemukan naskah, mereka menyimpan yang asli dan mengembalikan salinannya pada pemiliknya. Pada waktu itu, perpustakaan menjadi salah satu rumah para cendikiawan kelas dunia yang menghasilkan karya-karya besar di bidang geometri, trigonometri, astronomi, bahasa, kesusastraan, dan kedokteran.

Sayangnya, kemegahan perpustakaan ini berkali-kali runtuh dihantam badai serangan. Tercatat, ada tiga peristiwa serangan besar yang meluluhlantakkan Perpustakaan Alexandria.

Pertama, menurut dokumen yang berjudul “Kronik Perang Alexandria” karya Titus Livius bahwa Julius Caesar dari Roma memerintahkan pembakaran gedung itu untuk mengalahkan Ptolemeus. Cara ini dipakai untuk menghambat gerakan lawan karena sang kaisar tahu bahwa penduduk Alexandria sangat cinta pada perpustakaannya. Jika bangunan itu dibakar, mereka pasti beramai-ramai memadamkan api dan membiarkan Caesar pergi. Misi itu berhasil dan tercatat bahwa Perpustakaan Alexandria kehilangan 40.000 buku.

Kerusakan kedua dan ketiga disebabkan penyerangan bangsa Aurelian dan perusakan oleh Theophilus. Setelah itu, perpustakaan ditutup hingga Mesir dibebaskan oleh kaum Muslimin.

Sejak itulah perpustakaan Alexandria Baru dirancang oleh Snohetta, sebuah biro asitektur Norwegia. Perpustakaan dibagi secara diagonal dan berdiri dalam bentuk silinder yang ditusuk oleh sebuah garis lurus. Garis lurus yang menusuk bentuk silinder perpustakaan tersebut tidak lain adalah jembatan penyeberangan dari Universitas Alexandria bagian selatan. Jembatan tersebut membentang ke arah lantai dua perpustakaan dan terus ke plaza di sebelah utara gedung yang mengarah ke laut. Selain itu, bangunan berbentuk silinder dipotong oleh sudut miring. Semua dinding miring tersebut mengarah ke utara, ke arah laut Mediterania.

Dinding perpustakaan yang menghadap ke arah selatan dari bagian silinder dihiasi dengan potongan batu granit. Potongan tersebut berasal dari pecahan batu yang sangat besar, bukan hasil potongan alat seperti gergaji. Permukaan batu tersebut rata, dengan bentuk garis yang halus.

Batu-batu granit tersebut ditulis dengan simbol huruf dari seluruh dunia. Sinar matahari dan pantulan lampu di perbatasan air menghasilkan bentuk bayangan dinamis dari simbol tersebut. Pemandangan ini mengingatkan pada tempat beribadah Mesir kuno.

Dinding melengkung terbuat dari beton dengan sambungan vertikal terbuka. Sementara dinding yang lurus dihiasi dengan batu hitam dari Zimbabwe.

Sahabat wisata muslim, ada sebuah isu yang subur di kalangan para pembenci Islam bahwa Umar bin Khatthab telah menyuruh Amr ibn al-Ash menundukan Alexandria pada tahun 21H/640M, agar membakar perpustakaan tersebut.

Ternyata, tuduhan terhadap Umar itu tidak berdasar sama sekali. Hal itu disebabkan Perpustakaan Alexandria Lama, seperti telah telah dikemukakan di awal, telah sirna ketika Julius Caesar membakar sebagian kota itu pada tahun 48 SM. Perpustakaan yang telah dibangun kembali dalam ukuran yang lebih kecil pun lenyap akibat gempuran Kaisar Theodosius I pada tahun 391 M.

Pada saat Amr ibn al-Ash menaklukan Alexandria pada tahun 21 H/640 M, perpustakaan tersebut sudah tidak ada lagi puing-puingnya. Hal ini dikukuhkan dengan tidak adanya catatan dari para sejarawan terpercaya tentang pembakaran perpustakaan oleh Umar bin Khatthab pada masa itu. Demikian pula keterangan sejarawan muslim seperti al-Yaqubi, al-Bladzuri, al-Kindi, dan lainnya.

Tuduhan pembakaran perpustakaan oleh Umar muncul akibat karya yang ditulis Abdul Latif al-Baghdadi, seorang ahli astronomi sekaligus dokter yang lahir pada 1162 M dan meninggal di Baghdad pada tahun1231 M. Menurut catatan ilmuwan yang sezaman dengan Maimonides serta pernah melakukan perjalanan ke Mosul dan Damaskus tersebut, di Alexandria terdapat sejumlah pilar dan bidang kosong yang mengelilinginya. Menurutnya, di area ini seorang ilmuwan terkenal Aristoteles pernah mengajar murid-muridnya dan Alexander Agung mendirikan perpustakaannya. Menurutnya pula terdapat sebuah perpustakaan yang dibakar Amr ibn al-Ash atas perintah Umar ibn Al-Khattab.

Catatan itu kemudian di-blow up oleh sejarawan pada masa itu, Abu al-Fajar ibn Harun al-Ibri. Berdasarkan catatan tanpa pijakan ilmiah kuat tersebut, legenda pembakaran perpustakaan Alexandria oleh Umar ibn Al-Khattab kemudian dikutip oleh Edward Gibbon dalam karyanya “The Decline and fall of the Roman Empire”. Begitu pula Rene Seldiot dalam karyanya ”The History of the World” yang menyatakan bahwa warisan kebudayaan Islam terhadap kebudayaan manusia adalah pembakaran perpustakaan dan penebangan hutan tanpa sejengkal tanah pun yang ditanami. Kutipan yang sangat menyedihkan!

Dari sinilah isu pembakaran perpustakaan tersebut tersebar ke berbagai penjuru dunia. Padahal Umar ibn al-Khatthab tidak pernah melakukan tidakan biadab tersebut. (RA)
SelengkapnyaPerpustakaan Alexandria Rumah Para Cendikiawan Kelas Dunia
Posted by: Cheria Wisata

Travel Tour Wisata Muslim Umroh Haji ONH Plus Cheria