Showing posts with label al-azhar. Show all posts
Showing posts with label al-azhar. Show all posts

Masjid al-Azhar, Bukti Kecintaan Para Penguasa Mesir pada Ilmu dan Agama

Posted by Unknown on Tuesday, November 27, 2012

Umrah plus Mesir - Masjid al-Azhar, yang berlokasi di kompleks Sultan Al-Ghuri Al-Azhar St. ini merupakan bangunan masjid yang pertama kali dibangun oleh Jauhar Al-Shiqilli. Pada saat itu, ia menjabat sebagai panglima perang penguasa Dinasti Fatimiyyah ke-4, yaitu al- Muiz li Dinillah. Pembangunan masjid ini dimulai pada tahun 349 H/970 M dan akhirnya diresmikan pada tahun 361 H/972 M.

Pada saat dibangun pertama kali, ukuran Masjid al-Azhar separuh dari ukuran saat ini. Saat itu, masjid tersebut masih terdiri dari shahn terbuka, seperti yang ada hingga kini yang dibatasi lengkung-lengkung lancip. Ruang shalat terletak di sebelah utara shahn dan dua sayap di sebelah kiri dan kanan yang masing-masing terdiri dari tiga ruangan.

Setelah diresmikan, Masjid al-Azhar mengalami berbagai renovasi. Oleh karena itu, bangunan asli masjid tersebut berada di jantung masjid dalam bentuknya seperti yang terlihat saat ini. Renovasi yang dialami masjid ini terdiri dari penambahan sejumlah bangunan. Misalnya ruangan, gedung kuliah, mihrab, dan tempat wudhu baru. Akibatnya, masjid ini pun kehilangan bentuk asli dan tampilan-tampilan arsitiknya. Tidak aneh lagi, jika masjid ini seolah menjadi ajang pameran besar seni islam di Mesir sejak masa pemerintahan Dinasti Fatimiyyah hingga kini.

Saat memasuki masjid, di depan dekat terowongan yang menuju Masjid Al-Hussein ibn Ali dan Khan al-Khaili, terdapat pintu Al-Mujayyiynin. Pintu ini merupakan pintu atau gerbang utama Masjid Al-Azhar yang dulunya digunakan sebagai tempat para pengusaha pemangkas rambut mahasiswa Al-Azhar. Pintu masuk ini dibangun oleh seorang penguasa Dinasti Mamluk yang bernama Sultan Al-Asyraf Saifudin Qait Bey pada tahun 873 H/1469 M. Lengkung-lengkung di atas pintu dihiasi muqaranas (ukiran-ukiran stalaktit) dan sisi-sisinya dihiasi bentuk-bentuk arabeas yang berasal dari masa itu.

Selain itu disebelah kanan selasar terdapat sebuah gedung Madrasyah al-Aqbughhawiyyah yang dibangun oleh seorang pangeran dari Dinasti Mamluk, yaitu Ala’uddin Aqbugha Abdul Wahid pada tahun 740 H/1339 M. Ia memang terkenal sangat menaruh perhatian terhadap lembaga pendidikan ini. Itulah yang menyebabkan ia juga membangun ruang shalat, dinding kiblat, dan menara di gedung tersebut.

Sementara di sebelah kiri selasar, terdapat gedung lama Madrasah ath-Thaibarsiyyah yang dibangun pangeran Ala’uddin Thaibars al-Khazindar, seorang wakil panglima pasukan Dinasti Mamluk pada masa pemerintahan an-Nashir Muhammad ibn Qalwun. Madrasah tersebut didirikan sebelum Madrasah al-Aqbughawiyyah pada tahun 719 H/1319 M. Pangeran Thaibars terkenal sebagai seorang tokoh yang lurus dan saleh.

Selain sebagai sekolah, madrasah tersebut juga digunakan sebagai masjid. Tak aneh jika madrasah tersebut dirancang bagus dan indah. Bagian dalam gedung madarasah tersebut bisa dikatakan sebagian salah satu contoh menawan dari seni Islam. Sejak 1314 H/1896 M, madrasah tersebut dijadikan perpustakaan al-Azhar.

Sahabat wisata muslim, usai melewati selasar di antara kedua madrasah tersebut, kita akan memasuki shahn lapang Masjid al-Azhar yang dikitari bukaan-bukaan dari segala arah. Shahn tersebut berada di posisi sebelum Masjid al-Azhar lama. Ruang shalat yang berujung pada dinding kiblat lama disambung dengan perluasan yang dilakukan seorang tokoh Mamluk di Mesir pada masa pemerintahan Dinasti Utsmaniyyah, yaitu Abdurrahman Katkhuda, yang dipandang menaruh perhatian besar terhadap bangunan Masjid al-Azhar.pada tahun 1167 H/1753 M.

Katkhuda memugar masjid itu dan menambah bagian utara ruang shalat yang asli. Selain perluasan ke arah utara, didirikan pula sebuah bangunan besar yang memiliki pintu besar. Kini pintu tersebut lebih dikenal dengan sebutan pintu ash-Shaya’idah. Pintu ini merupakan gerbang besar yang dibuat oleh Abdurrahman Katkhuda. Di atas pintu tersebut dibangun ruangan khusus untuk mengahapal al-Qur’an bagi anak-anak.

Di bagian taman lapang berdinding didirikan makam, tempat penampungan air, dan saluran air. Di bagian atas makam tersebut dibuat sebuah kubah kecil. Sementara di samping pintu ash-Shaya’idah, didirikan sebuah menara yang dinisbatkan kepada Abdurrahman Katkhuda atas jasa besarnya dalam pendirian pintu gerbang utama al-Azhar yang kini disebut pintu al-Muzayyinin.

Saat ini, Masjid al-Azhar memiliki lima menara dengan gaya yang berbeda. Hal ini disebabkan kelima menara tersebut didirikan pada masa yang berbeda. Dua menara dibuat oleh Abdurrahman Katkhuda, satu menara oleh Sultan Qait Bey, dan satu menara lainnya oleh Sultan al-Ghuri. Adapun menara yang didirikan Sultan Qait Bey merupakan menara terbesar yang memiliki 2 balkon.

Seiring bergulirnya waktu, masjid yang semula memiliki 13 mihrab kini tinggal tersisa 6 mihrab. Adapun mihrab yang tertua adalah mihrab di dinding kiblat lama pada dinding masjid lama. Mihrab-mihrab tersebut dibuat dengan penuh keindahan dan kecermatan yang beragam. Selain itu, masjid ini memiliki 3 kubah. Kubah yang paling besar dan terindah adalah kubah yang berada di Madrasah al-Jauhariyyah, yang menyambung dengan masjid Al-Azhar. Kubah tersebut memiliki sejumlah syammasa dan lengkung-lengkung lancip yang dari luar berhiasan ukiran-ukiran kaligrafi indah.

Berkunjung ke Mesir? Kurang lengkap rasanya jika tidak berkunjung ke al-Azhar. (Jng/RA)
SelengkapnyaMasjid al-Azhar, Bukti Kecintaan Para Penguasa Mesir pada Ilmu dan Agama
Posted by: Cheria Wisata

Taman Al Azhar, Dari TPA Jadi Taman Penuh Pesona

Posted by Unknown on Monday, November 26, 2012

Umrah plus Mesir - Setelah Kairo dijadikan sebagai ibu kota Mesir sejak penaklukan Islam oleh Amr bin Ash yang mana sebelumnya Alexandria. Jika ditelusuri, umur Kairo sudah sangat tua sekali, setua agama Islam yang telah menyebar menjadi agama besar dunia. Seiring dengan tuanya umur Kairo, masih banyak ditemukan benda purbakala yang masih kokoh berdiri hingga kini.

Salah satu simbol tuanya kairo bisa dilihat saat kita memasuki kawasan Taman al-Azhar (Haqiqah al-Azhar atau al-Azhar Park) yang dibangun pada tahun 1404 H/1984 M atas ide Aga Khan Award for Achitecture yang menyelenggarakan konferensi di Kairo dengan tema “The Expanding Metropolis”. Kala itu, Kairo sedang menghadapi sederet tantangan pembangunan, termasuk tekanan jumlah penduduk yang kian melejit, penurunan kualitas perumahan, dan keperluan yang mendesak akan ruang hijau. Taman ini menjadi hiasan kota di atas lahan yang sebelumnya selama ratusan tahun lebih berupa gunung bebatuan yang berfungsi sebagai tempat pembuangan akhir (TPA) sampah kota Kairo.

Dalam konferensi itu, Agha Khan menyatakan bahwa ia akan membiayai pembuatan sebuah taman bagi kota Kairo. Ternyata lokasi yang paling cocok untuk taman itu terletak di Darasah. Lokasi dengan luas 30 hektar itu terletak di antara kota Al-Qatha’i yang didirikan oleh Dinasti Ayyubiyyah dan Madinah Al-Mawat. Diperkirakan, biaya pembuatan taman ini menghabiskan dana sekitar 270 milyar.

Saat pertama kali didirikan, Kairo terkenal dengan kota yang sarat dengan taman. Kondisi tersebut masih terpelihara hingga paruh pertama abad ke-20 M. Oleh karena itu pula Kairo yang terkenal dengan sebutan Kota Seribu Menara juga dikenal sebagai Kota Villa dan Taman. Sayangnya, sejak penggal kedua abad ke-28 M, kota ini berubah menjadi kota yang sangat sumpek. Apalagi jumlah penduduk kota ini melejit hingga sekitar 17 juta jiwa.

Proyek taman al-Azhar sempat dipandang sebelah mata oleh banyak pihak. Namun proyek itu akhirnya disetujui pemerintah Mesir. Taman al-Azhar dirancang oleh perusahaan lanskap di Mesir, yaitu Sites Internasional. Rancangan yang dibuat didasarkan pada ide periode sejarah Islam, misalnya ruang terbuka berbentuk kebun buah-buahan, area tempat duduk berpelindung (takhtabous), lengkung-lengkung dari model lengkung era Dinasti Fatimiyyah, serta air mancur dan saluran air ala Persia dan Samarkand.

Di sisi lain, taman al-Azhar dibuat dengan gaya “Islamic Garden”, di mana banyak terpampang mozaik-mozaik dalam seni Islam seperti halnya tanaman, bunga, dan ranting yang dilukis berbentuk geometrik. Mozaik ini tampak tertata rapi di dinding kubah, lantai, jalan, atau trotoar.

Selain itu, terdapat air mancur yang indah. Lanskapnya merupakan cita rasa tradisional dan modern. Sementara hijaunya rumput dan keindahan pohon dengan warna-warni bunga bisa langsung kita saksikan di depan mata.

Taman al-Azhar berada di areal berkontur bukit sepanjang bukit tinggi Mesir. Dari bukit ini kita bisa menyaksikan berbagai kawasan Mesir yang penuh dengan pemandangan berupa menara-menara mesjid, termasuk mesjid yang berada di tengah benteng Salahuddin Al-Ayyubi serta eksotika gurun tandus.

Sahabat wisata muslim, untuk memasuki kawasan Taman al-Azhar ini, turis atau pendatang dikenakan tarif tiket sebesar 5 pound atau 10.000 ribu rupiah. Bisa dibilang, hampir mirip jika kita ingin berwisata ke Kebun Raya Bogor. Di taman al-Azhar ini, kita bisa menyaksikan sunset (matahari terbenam) di sela menara Masjid dan ranting pepohonan.

Uniknya, saat sore hari tiba di taman Al-Azhar terdapat lampu-lampu gedung tua, rumah tua, dan bangunan tua yang terlihat indah sekali. Kemegahan Benteng Salahudin yang telah didesain sedemikian rupa oleh pemerintah Mesir pada malam hari juga terlihat garang, begitu pula sorotan lampu dari masjid Muhammad Ali. Semakin sore, keramaian taman Al-Ahar sangat terasa. Sebagai satu-satunya taman yang terluas dan terindah, taman ini dibuka hingga jam 12 malam.

Saat malam tiba, kursi yang disediakan di pinggir taman bisa digunakan untuk bersantai sambil pemandangan lampu-lampu kota yang sangat menakjubkan. Di halaman paling atas, sebelah kanan taman, terdapat beberapa kafe dengan nuansa yang sangat elegan. Sangat cocok untuk bersantai dan menikmati keindahan kota. Terkadang, tempat ini juga dipakai untuk acara perikahan penduduk setempat.

Pengalaman unik lainnya juga bakal ditemukan saat menunaikan shalat tepat di bawah langit di atas rerumputan hijau yang ada di taman al-Azhar, yang setiap jengkal buminya Masjid dan asalnya bersih serta suci. Lapangan rumput ini juga biasa digunakan untuk beribadah shalat fardhu bersama orang-orang Mesir. Terasa begitu khusyu dan menyatu dengan alam.

Nah, bagi sahabat wisata muslim yang tertarik untuk menikmati suasana santai di Taman al-Azhar ini, paket umrah plus Mesir bisa digunakan sebagai sarana untuk beribadah sekaligus berwisata. Cheria Travel menyelenggarakan paket umrah plus Mesir yang akan mengantarkan sahabat wisata muslim untuk beribadah umrah sekaligus menelusuri obyek wisata dan sejarah di Mesir. Ibadah tenang, wisata pun nyaman. (Jng/RA)
SelengkapnyaTaman Al Azhar, Dari TPA Jadi Taman Penuh Pesona
Posted by: Cheria Wisata

Travel Tour Wisata Muslim Umroh Haji ONH Plus Cheria