Paket Tour Muslim Romantic Korea

Posted by Unknown on Tuesday, October 2, 2012

Paket Tour Muslim Romantic Korea


Wah rugi bila tidak ikut paket tour muslim romantic korea yang satu ini, Anda akan merasakan sensasi yang luar biasa ketika berada di negeri ginseng yang sangat terkenal ini,  yuk segera daftar karena seat yang tersedia memang terbatas.


tour muslim korea


Hari 01 : Jakarta-Incheon
Para peserta diharapkan sudah berkumpul di Bandara Soekarno-Hatta, Terminal keberangkatan 2 E, 3 jam sebelum waktu keberangkatan untuk bersama-sama memulai perjalanan “Romantic Korea“.

Hari 02 : Tiba di Incheon Nami Island + Mt Sorak + Teddy Museum ( MS , MM )
Pagi hari tiba di Bandara Incheon , Anda akan diajak mengunjungi Nami Island untuk melihat tempat shooting film drama “Winter Sonata“, kemudian mengunjungi Teddy Bear Museum.




Hari 03 : Mt Sorak-Gangreung- Pyeongchang ( MP , MS , MM )
Hari ini Anda akan diajak mengunjungi Kwongeumseong Fortress dengan menggunakan Cable Car dan Shinheungsa Temple yang merupakan kuil tertua di Korea dibangun pada abad ke 7 untuk melihat patung Grand Bronze Budha. Kemudian acara dilajutkan menuju ke Gangreung mengunjungi Wind Village dan mengunjungi Woljung-sa Temple. Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Pyeongchang untuk beristirahat.




Hari 04 : Pyeongehang-Yeoiu Premium Outlet-Everland-Seoul ( MP , MM )
Setelah Makan pagi, Anda akan diajak mengunjungi Yeoju Premium outlet tempat belanja koleksi ternama. Kemudian tour Everland Theme Park dengan Unlimited Full Day Passport , Anda dapat menikmati berbagai macam permainan, parade dan berfoto di taman 4 musim. Sorenya perjalanan dilanjutkan kembali ke Seoul.






Hari 05 : Seoul-Songdo ( MS , MM )
Acara City tour hari ini mengunjungi Gyongbok Palace, National Folk Museum , melewati Presidential Blue House dan dilanjutkan ke National Ginseng Outlet dan Amethyst Show room , kemudian Anda akan diajak untuk bereksperimen membuat “KIMCHI“ yang merupakan salah satu menu terfavorit di Korea dan juga memakai baju tradisional Korea “Hanbok“ , Setelah itu bebas shopping di Cosmetic Shop dan Dongdaemun Market.




Hari 06 : Seoul/Songdo-Incheon –Jakarta ( MP )
Setelah Makan pagi, Anda akan diantar ke Airport untuk perjalanan kembali ke Jakarta.

Selain itu jika Anda ingin menghabiskan momen berharga akhir tahun ini bersama dengan keluarga maupun teman terdekat, mengapa tidak mengikuti Paket Promo Tour Wisata Muslim Korea Jeju Bulan Februari Tahun 2014 ataupun Paket Tour Tahun Baru ke Korea dari Cheria Travel?

Kunjungi juga referensi lainnya mengenai Paket Tour Korea Selatan di website ini ya. Hubungi kami untuk mendapatkan info lebih lanjutnya.

SelengkapnyaPaket Tour Muslim Romantic Korea
Posted by: Cheria Wisata

Kisah Jatuhnya Mesir Ke Tangan Muslimin

Posted by Unknown

alexandria-mesir
Berwisata ke Mesir? Jangan lupa untuk mengunjungi distrik Mesir Lama. Di daerah ini terdapat banyak bangunan historis Islam, salah satunya adalah Masjid Amr ibn al-Ash atau Masjid Fusthath. Masjid ini merupakan bagian dari peringatan dalam sejarah Islam yang mencatat peran besar Amr ibn al-Ash untuk menundukkan Mesir.

Sebelum memeluk Islam, Amr ibn Ash adalah seorang pedagang sukses di kota Alexandaria, yang menjadi pusat perniagaanya. Setelah memeluk Islam pada tahun 18 H/639 M, Amr ibn Ash diangkat oleh khalifah Umar ibn Al-Khattab menjadi Gubernur Palestina dan Yordania.

Pada saat Khalifah Umar melakukan perjalanan terakhir ke Suriah, Amr ibn Ash menunggu kedatangan sang Khalifah untuk membicarakan idenya untuk menguasai Mesir. Menurutnya, Mesir harus ditundukkan agar posisi pasukan kaum muslimin yang telah berhasil menundukan Suriah dan Yordania terlindungi, terutama dengan menundukan kota Alexandria. Hal itu disebabkan Alexandaria merupakan salah satu pangkalan kuat bangsa Romawi yang merajalela di Laut Tengah. Alexandria harus direbut, jika tidak, posisi pasukan kaum muslimin akan selalu menjadi bulan-bulanan angkatan laut Romawi yang menguasai Laut Mediterania.

Awalnya, Khalifah Umar enggan memenuhi permintaan sang jenderal. Menurutnya, penaklukan Mesir belum saatnya dilakukan. Namun, karena Amr ibn Ash mengemukakan idenya berulang-ulang, sang khalifah pun mengizinkannya dengan syarat hanya membawa 4.000 serdadu.

Mendengar keputusan tersebut, betapa gembiranya sang jenderal yang terkenal piawai di medan pertempuran itu. Ia pun segera membawa pasukan dari al-Arisy menuju Farma, yang terletak di tepi Laut Tengah. Setelah berhasil mengalahkan pasukan Romawi yang mencoba menghadangnya, sang jenderal mengarahkan pasukannya ke arah Benteng Babilonia. Benteng pun jatuh, begitu pula dengan wilayah Balbis dan Umm Danin.

Setelah beberapa saat beristirahat di dekat Benteng Babilonia, Amr meminta izin lagi untuk menaklukkan Alexandria, yang pada saat itu menjadi kota metropolis Byzantium yang berkebudayaan Yunani. Begitu izin sang Khalifah diterima, Amr ibn Ash pun menggerakkan pasukan kaum Muslimin untuk mengepungnya. Setelah pengepungan selama 14 bulan, pasukan terdepan yang berada di bawah komando Zubair ibn Awwan dan Maslamah ibn Mukhallad berhasil menjebol pertahanan kota tersebut. Alexandria jatuh pada tahun 20 H/ 640 M.

Usai menaklukkan pasukan Romawi, Amr ibn Ash menulis surat kepada khalifah yang berisi, ”Saya telah berhasil menundukan sebuah kota di ujung barat. Betapa banyak harta kekayaan kota ini hingga saya tidak kuasa menghitungnya. Di kota ini terdapat tidak kurang dari 4.000 pemandian Yahudi yang siap membayar jizyah dan 4.000 pemain musik dan tarian.”

Untuk menhindari serangan balasan pasukan Romawi dari luat, yang masih menguasai berbagai kawasan di luar Mesir, Umar memerintahkan Amr ibn Ash supaya tidak memilih Alexandria sebagai markasnya. Khalifah Umar khawatir jika pasukan kaum muslim mendapat gempuran dari Angkatan laut Romawi, yang kala itu menguasai laut tengah dan berpusat di Konstantinopel. Oleh karena itu, ia membuat kota baru yang bernama Futsthath sebagai ibukota wilayah tersebut.

Kota ke-3 yang dibangun kaum muslimin pada 22 H/643 M, selepas Basrah dan Kuffah, yakni Fusattum, yang semula dijadikan barak militer dan berada pada posisi 4 kilometer dari tepi sungai Nil. Selain itu, sebagai penanda keberhasilan bersejarah tersebut dan meneladani jejak Rasulullah SAW, didirikanlah sebuah Masjid. Inilah bangunan masjid yang kini lebih dikenal dengan Masjid Amr ibn al-Ash (Masjid Futsthath).

Menurut catatan sejarah, masjid ini merupakan bangunan ke-4 setelah Masjid Madinah, Kuffah, dan Basrah. Awalnya masjid ini sangat sederhana dengan panjang 25 meter, lebar 15 meter, dan dinaungi atap yang terbuat dari kayu, pelapah kurma, dan batang-batang pohon kurma. Saat itu, arah kiblat tidak sepenuhnya tepat sehingga diluruskan oleh Qurrah ibn Syarik. Masjid ini didirikan di tepi sungai Nil dan hanya memiliki 3 dinding.

Pada tahun 53 H/762 M, Masjid Futsthath direnovasi oleh Musalamah ibn Mukhallad yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Mesir pada pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan. Masjid tersebut diperluas dan temboknya dibuat dari batu bata. Selain itu ditambah empat buah menara di setiap sudutnya. Konon, menara-menara tersebut merupakan corak menara yang pertama kali dalam sejarah arsitektur Islam.

Selanjutnya, Masjid Futsthath diperindah oleh Abdul Aziz ibn Marwan, seorang penguasa Dinasti Umawiyyah. Pada tahun 93 H/710M, masjid ini kembali direnovasi oleh Qurrah ibn Syarik sehingga bertambah luas. Kali ini, tembok masjid dibuat menjulang tinggi dan atapnya dibuat dari kayu. Selain itu, beliau juga membuat mihrab berceruk untuk masjid ini. Inilah mihrab yang pertama kali dibuat di Mesir. Selanjutnya, masjid dilengkapi dengan sebuah mimbar kayu yang indah. Pembangunan kemudian diselesaikan oleh Shalih Ali, yang saat itu menjabat sebagai gubernur Mesir.

Seiring berjalannya waktu, Masjid Futsthath kembali mengalami renovasi, yang dilakukan oleh Abdullah ibn Thahir, Thughj Al-Ikhsyidi, Khalifah Al-Munthasir, hingga Shalahuddin al-Ayyubi. Setelah itu, renovasi kembali dilakukan oleh Murad Beik pada tahun 1213 H/1798 M dan berujung pada tahun 1342 H/1922 M. Menurut Prof.Dr.Husain Mu’nis dalam karyanya Al-Masajid, saat ini secara artistik Masjid Futsthath merupakan masjid yang sangat selaras dan terpadu. (RA) 

Masjid Fustath, Prasasti Pembebasan Mesir oleh Kaum Muslimin

SelengkapnyaKisah Jatuhnya Mesir Ke Tangan Muslimin
Posted by: Cheria Wisata

Wisata Pendidikan Ke Al-Azhar Asy-Syarif Mesir

Posted by Unknown on Monday, October 1, 2012


Idarah aL-Azhar Asy-Syarif, Pusat Lembaga Pendidikan Tertua di Dunia Islam

Idarah Al-Azhar Al-syarif merupakan gedung syaikh Al-Azhar yang berlokasi di sebelah kanan jalan antara Salah Salem St. dan Jauhar Al-Qa’id St. Di gedung inilah persoalan Islam dikaji, baik di tingkat Mesir maupun penjuru dunia.

Sebelum pindah ke Saleh Salem St., gedung yang menjadi kantor Syaikh Al-Azhar terletak di Jauhar Al-Qa’id St. Di antara dua masjid terkenal di Mesir, yaitu Masjid Al-Azhar dan Masjid al-Husain ibn Ali yang terletak di wilayah Al-Husain.

Syaikh Al-Azhar membawahi sebuah lembaga yang disebut al-Azhar Asy-Syarif, sebuah lembaga tertua di dunia Islam. lembaga itu didirikan pada tahun 359 H/970 M,oleh panglima Dinasti Fatimiyyah yang memimpin penaklukan Mesir, Jauhar Al-Shiqilli. Namun, lembaga ini baru dibuka secara resmi pada tahun361 H/972 M. Pada tahun itu, lembaga ini mulai dibuka sebagai masjid. sedangkan kedudukannya sebagai lembaga pendidikan baru dimulai empat tahun kemudian, bertepatan pada Bulan Ramadhan 365 H/oktober 975 M.

Abu al-Hasan Ali ibn Al-Nu’man Al-Qairuwani dipilih sebagai pengasuh pertama lembaga ini. Saat itu, beliau menjabat sebagai ketua mahkamah agung. Dilihat dari namanya terlihat bahwa tokoh ini berasal dari Qaiwarun, Tunisia. Wajar, penguasa Mesir dari Dinasti Fatimiyyah saat itu baru saja pindah dari Tunisia.

Penguasa Fatimiyyah membawa serta para ulama dan ilmuwan. Kajian-kajian yang dilakukan di lembaga pendidikan ini berkisar materi-materi agama, bahasa, logika, dan astronomi. Para pengajarnya, yang terdiri dari sekitar 30 orang, antara lain Menteri Abu Al-Faraj Ya’qub ibn Yusuf ibn Killis. Menteri ini mengajar ushul fiqih dengan pedoman Kitab Al-Risalah Al-Aziziyyah.

Corak Al-Azhar yang demikian itu baru berakhir saat Mesir jatuh ke tangan Dinasti Ayyubiyyah yang didirikan Shalahudi al-Ayyubi. dibawah dinasti ini, al-Azhar pun berubah. Saat ini, lembaga tersebut menjadi bercorak sunni.

Al-Azhar berkembang dengan cepat. Perkembangan cepat ini mencapai puncaknya ketika Andalusia lepas dari pelukan kaum muslimin dan Baghdad luluh-lantak akibat gempuran serdadu-serdadu Mongol. Al-Azhar pun menjadi tempat pelarian para ilmuwan dari kedua kawasan itu. Selanjutnya al-Azhar segera menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia Islam. Perkembangan itu kian cepat karena dukungan para penguasa yang mencintai ilmu pengetahuan.

Ketika Mesir berada di bawah kekuasaan Dinasti Mamluk, al-Azhar berhasil memulihkan posisinya di bidang ilmu pengetahuan, sebagai pusat pertemuan para guru besar, staf pengajar, dan mahasiswa. Selain itu, lembaga pendidikan tersebut juga mulai berfungsi secara penuh sebagai sebuah lembaga ilmiah yang dikelola dan dibiayai negara berdasarkan ketetapan dan keputusan yang jelas. Dampaknya, lembaga ini pun mengalami perluasan dan perkembangan pesat sampai akhirnya menjadi sebuah kota universitas yang terdiri dari sejumlah gedung.

Masing-masing gedung disebut ruwaq dan yang paling terkemuka di antara banyak ruwaq tersebut adalah Ruwaq Abbasiyyah. Ruwaq ini dibuat pada masa pemerintahan Khedive Abbas Hilmi yang memerintah hingga 1333 H/1914 M.

Gedung yang diresmikan pada 1315 H/1897 M tersebut mirip gedung administrasi Al-Azhar. Gedung Abasiyyah tersebut bisa dikatakan sebagai salah satu bagian dari arsitektur dan seni Islam pada akhir pemerintahan Diansti Mamluk. Saat itu, gedung tersebut menjadi tempat kedudukan Majelis Pengarah Al-Azhar dan para Syaikh. Selain menjadi tempat perpustakaan dan pusat administrasi dan dokumentasi, beberapa ruangan di dalam gedung tersebut juga disediakan bagi mahasiswa.

al-azhar
universitas al-azhar-asy-syarif kairo-mesir

Adapun para mahasiswa dari luar kota maupun luar negri bermukim di beberapa kampong, yaitu Afifi, Zarafah, Basyashah, Sulaimiyyah, Jizawiyyah, Zuhar, dan Munasirah.

Memasuki zaman modern, al-Azhar menata dirinya kembali. Sebagai contoh pada tahun 1237 H/1822 M, lembaga ini mulai memberikan gelar al-Alamiyyah kepada para lulusannya. Hingga saat ini, lembaga ini tetap memiliki peran besar dalam dunia pemikiran dan ilmiah di dunia Islam. Lembaran sejarah mencatat, sejumlah tokoh besar kebangkitan pemikiran timur tengah adalah lulusan Al-Azhar, misalnya Taqiyuddin an-Nabhani dan banyak lulusan lainnya.

Pada tahun 1381 H/1961 M, al-Azhar memasuki periode baru. Hal ini disebabkan keluarnya undang-undang yang mengubahnya menjadi sebuah universitas modern. Namun, di saat yang sama tetap memelihara kajian-kajian tradisional yang menjadi ciri khasnya, misalnya kajian-kajian keislaman dan bahasa Arab.

Dengan dibukanya fakultas dengan berbagai disiplin ilmu, jumlah mahasiswanya pun semakin bertambah. sehingga Al-Azhar pun menjadi sebuah lembaga ilmiah.keagamaannya yang benar-benar unik.berbeda dengan lembaga Al-Azhar Al-Syarif yang telah berusia lebih dari 1000 tahun,gelar”Syaikh Al-Azhar”yang diberikan kepada seorang yang menjadi pemimpin tertinggi lembaga tersebut baru dipakai pada taun 1101 H/1690 M,pemegang pertama adalah Syaikh Muhammad Abdullah Al-Karrasyi.hinga tahun 1355 H/1936 M,jabatan Syaikh al-Azhar bisa diwariskan.kemudian sejak 1366 H/1949 M,keluar aturan yang membolehkan pemegang jabatan ini ditetapkan oleh kepala negri Mesir.

Jabatan Syaikh al-Azhar merupakan jabatan independen dan otonom yang memiliki otoritas penuh tanpa campur tangan pemerintah. Namun, sejak Presiden Anwar Sadat berkuasa, pemerintah Mesir mulai menggoyang kedudukan Syaikh al-Azhar hingga setara kedudukannya dengan jabatan perdana mentri.

Usaha yang dilakukan Presiden Anwar Sadat selalu kandas di bawah kewibawaan seorang Syaikh Al-Azhar, yang kala itu djabat oleh Prof. Dr. Syaikh Abdul Halim Mahmud. Setelah Syaikh Abdul Halim Mahmud wafat pada tahun 1398 H/1978 M, pemerintah Mesir mulai mencampuri otoritas Syaikh Al-Azhar.

Sejatinya, jabatan Syaik Al-Azhar bukan hanya milik ulama Mesir. Namun, jabatan tersebut adalah milik Dunia Islam. Jadi, siapa pun ulama dan tokoh dunia berhak menjadi Syaikh Al-Azhar bila terpilih. Hingga saat ini peraturan tersebut masih berlaku.

Nah, bagi sahabat wisata muslim yang ingin berkunjung ke lembaga pendidikan tertua di dunia Islam ini, ikuti saja tur wisata muslim. Bisa dengan paket khusus ke Mesir, bisa juga dipaketkan dalam paket umroh plus Mesir. Selamat berwisata.(RA)
SelengkapnyaWisata Pendidikan Ke Al-Azhar Asy-Syarif Mesir
Posted by: Cheria Wisata

Travel Tour Wisata Muslim Umroh Haji ONH Plus Cheria