Showing posts with label kisah haji. Show all posts
Showing posts with label kisah haji. Show all posts

Kisah Haji Yang Menginspirasi

Posted by Unknown on Tuesday, December 25, 2012



kisah haji, haji, naik haji, onh plus, haji 2013


Melaksanakan kewajiban ibadah haji selalu melahirkan satu cerita yang amat personal. Jika ada seribu orang berangkat berhaji ke tanah suci, pastilah ada seribu kisah haji yang dibawa pulang.

Kisah-kisah itu mulai dari lika-liku mengumpulkan biaya, ketakutan untuk menginjakkkan kaki ke tanah suci karena alasan tertentu,  hingga hal-hal unik yang terjadi selama menjadi tamu Alloh. Kisah haji adalah cerita inspiratif yang dapat dipakai untuk mempertebal iman kita.

kisah haji, haji, naik haji, onh plus, haji 2013


Saat ini, kisah haji telah banyak divisualisasikan lewat media cetak berupa buku, artikel di koran dan majalah maupun dalam wujud film dan sinetron. Ini dia beberapa diantaranya :

a.    Buku
Malaikat Cinta: Ditulis oleh Jonih Rahmat, film ini berkisah tentang kebaikan orang-orang yang tidak diduga hingga dirinya dapat menunaikan haji tanpa keluar uang yang berarti.


Emak Ingin Naik Haji: Kisah haji yang satu ini menjadi bestseller dan akhirnya diangkat ke layar film.  Ditulis oleh penulis produktif Asma Nadia.

kisah haji, haji, naik haji, onh plus, haji 2013


b.    Film
Emak Ingin Naik Haji:bercerita tentang Emak, seorang wanita paruh baya yang dengan gigih berusaha untuk dapat mewujudkan impiannya, yaitu pergi ke tanah suci Mekah untuk menunaikan haji. Kehidupan Emak sehari-hari hanya bergantung pada hasil jualan kue yang dititipkan di warung atau pesanan orang.

Le Grand Voyage: Ini adalah sebuah film 2004 yang ditulis dan disutradarai Ismaƫl Ferroukhi. Film kisah haji ini menggambarkan hubungan ayah dan anak ketika pergi berhaji dengan mengendarai mobil. Film ini ditayangkan di Festival Film Toronto 2004 dan Festival Film Venice.

kisah haji, haji, naik haji, onh plus, haji 2013


c.    Sinetron
Tukang Bubur Naik Haji: Disiarkan di SCTV dan mencoba menggugah kesadaran. Cerita keseluruhan Tukang Bubur Naik Haji seperti menonton kehidupan masyarakat sehari-hari, yang di dalamnya termasuk perilaku kita sendiri.

kisah haji, haji, naik haji, onh plus, haji 2013


Tukang Becak Naik Haji: Ini adalah FTV dengan pemain utama Donny Alamsyah. Film ini diawali dengan pengenalan si  Wiryo adalah bekas preman dengan badan penuh tato yang sudah insyaf. Dalam kesehariannya, setiap hari Jumat dia menggratiskan penumpangnya. Tanpa sengaja Yola menjadi penumpang becak Wiryo. Nah disinilah cerita ini mulai dirajut dengan apik.

Lalu, seberapa unik persiapan Anda untuk bisa berhaji? Untuk membantu anda merencanakan penunaian ibadah haji maka Cheria Travel memberikan referensi pilihannya mengenai haji untuk anda melalui artikel Mudahnya Mendaftar Haji Di Cheria Travel.

Jangan lupa juga untuk mengunjungi video singkat kami di bawah ini ya, semoga bermanfaat.



Salam Cheria Travel.


SelengkapnyaKisah Haji Yang Menginspirasi
Posted by: Cheria Wisata

Naik Haji karena Berdoa

Posted by Unknown on Wednesday, April 11, 2012

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku [berdoa kepada-Ku] akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS. Al-Mu’min: 60)

“Ya, Allah...Kapan aku mengangkat koperku sendiri?”

Itulah permintaan Ujang, seorang kuli panggul di Bandara Soekarno-Hatta saat mengangkat koper-koper jamaah saat naik haji.

Kala itu Bulan Muharram 1424 H. Tepat pada saat para jamaah haji kembali pulang ke tanah air. Sebagai seorang porter (tukang angkut), mengangkat koper adalah pekerjaan sehari-harinya. Namun kali ini, koper yang diangkat bukan sembarang koper. Namun koper milik jamaah haji yang baru saja dibongkar dari pesawat Saudi Airlines.

Setiap kali mengangkat satu koper, Ujang membaca basmallah dan bershalawat kepada Nabi saw. Sudah berpuluh koper diangkatnya, hingga saat memegang gagang sebuah koper terbetik keinginan dan pengaduannya yang kuat di dalam hati, “Ya, Allah, kapan aku mengangkat koperku sendiri seperti ini?”

***

Hari pun berganti. Minggu berganti minggu, bulan berganti bulan. Tepat empat bulan kemudian, terdapat pengumuman pemberian bonus dari perusahaan tempatnya bekerja. Subhanallah...nama Ujang tercantum di antara 17 karyawan yang akan diberangkatkan perusahaan ke tanah suci atas biaya perusahaan. Ujang pun bersujud syukur menyambut berita gembira itu.

Namun, setelah berita gembira itu datang, Ujang tertegun. “Bagaimana dengan Iis, istriku, jika tahu aku hanya berangkat seorang diri tanpa bersamanya?” pikirnya. Memang, selama ini sepasang suami-istri itu selalu berdoa bersama agar diperkenankan berangkat naik haji bersama-sama.

Di sepanjang jalan, Ujang merancang kata-kata yang tepat untuk menyampaikan berita itu. Jangan sampai berita gembira itu justru akan membuat istrinya bersedih. “Semoga tidak ada salah kata yang bisa melukai hati istriku,” harapnya.

Sesampainya di rumah, Ujang segera menemui istrinya. Dengan harap-harap cemas, ia pun menyampaikan kabar kejutan yang diterimanya dari kantor.

“Is, sebelumnya...Akang mau minta maaf sama kamu,” ujar Ujang.

“Emangnya ada apa, Kang?” tanya Iis.

“Akang dapat berita gembira, tapi khawatir kamu malah jadi sedih. Janji ya? Jangan marah, apalagi sedih,” ungkap Ujang hati-hati.

Iis terdiam sambil memandang suaminya dengan wajah bertanya-tanya. Penasaran...

“Begini Is. Akang tadi dapat berita kejutan dari kantor. Katanya Akang akan diberangkatkan naik haji, dibayarin kantor,” lanjut Ujang.

“Alhamdulillah!” seru Iis kegirangan. Segera dipeluknya sang suami dengan erat, “Selamat ya Kang...Kirain berita sedih.”

“Iya Is, memang berita gembira. Tapi Akang takut kamu sedih. Akang nggak bisa ikut bayarin Iis naik haji. Tau sendiri, kan, Akang cuma pegawai kecil. Kalau saja duitnya ada, Akang ingin kita bisa naik haji sama-sama,” ujar Ujang.

Iis memahami kegundahan hati Ujang. Sambil tersenyum ia berujar, “Ya udah, nggak usah dipikirin, Kang. Iis ikhlas kok melepas Akang naik haji. Tapi jangan lupa, doain Iis biar cepat nyusul Akang naik haji.”

Alhamdulillah...Hati Ujang menjadi gembira dan damai rasanya. Apa yang ia khawatirkan rupanya tidak terjadi. “Terima kasih, Ya Allah...”

***

Saat keberangkatan Ujang naik haji ke Tanah Suci pun tiba. Banyak para tetangga yang ikut mengantarkan. Sebagaimana lazimnya kebiasaan di kampung, Ujang diantar dilepas dengan azan dan iqamat. Saat shalawat dustur dikumandangkan, banyak orang yang meneteskan air mata, tak terkecuali Ujang. Dipeluknya satu persatu kerabat, tetangga, dan orang yang dikenalnya sambil meminta restu.

Hingga tiba giliran Iis mencium punggung tangan Ujang. Air mata mata keduanya deras mengalir saat berpelukan sebagai tanda perpisahan sementara.

“Kang Ujang, jangan lupa doain Iis di Baitullah, ya. Panggil-panggil nama Iis, insya Allah Iis dan anak-anak ikhlas melepas Akang. Semoga kami semua bisa nyusul berangkat haji dengan doa Kang Ujang,” ujar Iis.

***

Empat puluh dua hari lamanya Ujang menuntaskan hajinya di Mekkah dan Madinah. Kini, ia sudah kembali ke tanah air dan bekerja kembali seperti semula. Meski masih berkutat dengan pekerjaan lamanya, ia kini sudah mendapat gelar Pak haji dari orang-orang yang dikenalnya.

Suatu hari, tanpa sengaja, Iis mengutarakan keinginannya untuk naik haji kepada Ujang. Dengan nada sedih, diungkapkannya kegundahan hatinya yang sudah begitu rindu ingi berkunjung ke Baitullah. Mendengar itu, Ujang pun turut merasakan kerinduan hati Iis. Dengan lembut dihiburnya hati sang istri.

“Is, kamu berhak naik haji seperti halnya orang lain. Tapi, Akang belum punya uang untuk memberangkatkan kamu, Is. Cuma Allah satu-satunya harapan kita. Yuk, sama-sama kita nanti shalat tahajud dan meminta kepada Allah. Jangankan naik haji, minta lebih dari itu pun Dia Maka Kuasa untuk mengabulkan,” ajak Ujang. Iis pun menurut.

Setiap hari mereka berdoa tanpa lelah, terutama Iis. Jika Ujang sedang kecapekan dan tidak bisa bangun malam untuk tahajud, Iis shalat sendiri. Hingga suatu malam, antara tidur dan terjaga, Ujang mendengar Iis berdoa dengan derai air mata. Memohon dengan sangat kasih sayan Allah swt. Dalam hati, Ujang ikut mengaminkan doa istrinya.

***

Hingga suatu pagi, sebuah telepon datang pada saat Ujang hendak berangkat kerja. Ternyata, telepon itu dari kak iparnya yang mencari Iis, istrinya. Diserahkannya gagang telepon pada Iis. Dari jauh, Ujang mengamati istrinya yang tampat terkejut dan tak banyak bicara. Selesai menutup telepon, Iis menangis.

Perasaan Ujang jadi tidak enak. “Jangan-jangan ada yang meninggal,” pikirnya. Didekatilah istrinya dan dirangkulnya.

“Ada apa, Is,” tanya Ujang.

Sambil sesengukan, Iis mengatakan bahwa baru saja kakaknya telepon untuk meminta Isis menemaninya naik haji. Karena suami kaknya tidak bisa menemani, Iis pun diajak naik haji atas biaya kakaknya.

“Alhamdulillah ya Allah..begitu pemurahnya Engkau...”

Mereka pun tersungkur..bersimpuh sujud, syukur atas nikmat yang diberikan Allah swt kwpada mereka. (RA)

*Cerita ini diadaptasikan dari kisah naik haji yang ditulis oleh A. Y. Ibrahim dalam buku 11 Langkah Menuju Kemabruran
SelengkapnyaNaik Haji karena Berdoa
Posted by: Cheria Wisata

Berkat Sedekah, Sekuriti Naik Haji-kan Ibunya

Posted by Unknown on Friday, March 30, 2012



Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rizki), dan kepadaNyalah kamu dikembalikan.” (Al-Baqarah[2]: 245).

Tak heran jika banyak orang menjadikan sedekah sebagai amalan untuk meraih hajat yang diinginkan. Memang, demikianlah keutamaan sedekah yang hasilnya pun telah dibuktikan secara nyata oleh banyak orang. Nah, salah satunya adalah seorang sekuriti pegawai POM bensin yang bisa menghajikan ibunya setelah bersedekah dan memperbaiki shalatnya. Sumber kisah ini disampaikan Ust. Yusuf Mansur dalam sebuah kuliah onlinenya.

Kisah ini berawal saat Ust. Yusuf Mansur sedang berada dalam sebuah perjalanan. Karena capek, ia pun tertidur. Namun tiba-tiba, beliau terbangun karena hendak buang air kecil. Tak lama kemudian ia dan sopirnya mampir ke sebuah POM bensin yang lumayan bagus. Ada minimart-nya, adapula tempat untuk ngopi-ngopi santai.

Saat keluar dari mobil, tiba-tiba ada seorang sekuriti POM Bensin yang memanggilnya.

“Pak Ustadz!” seru sang sekuriti sambil melambai dan mendekatinya. Ust. Yusuf Mansur pun berhenti dan menunggu.

“Alhamdulillah, nih. Bisa ketemu Pak Ustadz. Biasanya kan kita Cuma lihat di TV aja...”

Ustadz Yusuf Mansur pun tersenyum mendengar penuturan sekuriti tersebut. “Saya ke Toilet dulu, ya?” ujarnya.

“Nanti saya ingin ngobrol, boleh Tadz?” lanjut sekuriti.

“Saya lagi buru-buru, loh. Tentang apaan sih?” tanya sang Ustad.

“Saya bosen jadi satpam, Pak Ustadz,” ungkap sang sekuriti.

Sejurus kemudian Ust. Yusuf Mansur tersadar. Barangkali Allah memang punya skenario memberhentikan dirinya di tempat ini dan bertemu dengan sekuriti tersebut.

“Oke, nanti setelah dari toilet, ya?”

Beberapa saat setelah itu...

“Jadi bagaimana, bosen jadi satpam? Emangnya nggak gajian?” tanya Ust. Yusuf Mansur membuka percakapan di kedai kopi sekitar POM bensin itu.

“Gaji mah ada Ustadz. Tapi masa gini-gini aja?”

Selanjutnya obrolan terus berlangsung. Intinya, Ust. Yusuf Mansur menyarakan agar sang sekuriti memperhatikan betul-betul datangnya waktu shalat. Shalat hendaknya di awal waktu. Segera setelah adzan berkumandang atau bahkan sebelum panggilan Allah swt lewat adzan berkumandang. Jika ingin urusannya diperhatikan Allah maka kita pun jangan mengabaikan panggilan Allah. Pakaian pun perlu diperhatikan. Gunakan dan siapkan pakaian terbaik untuk bertemu Allah swt.

“Yang kedua,” lanjut Ust. Yusuf Mansur, “keluarin sedekahnya.”

Sang sekuriti tertawa. “Pak Ustadz, bagaimana mau sedekah. Hari gini aja nih, udah pada abis belanjaan. Hutang di warung terpaksa dibuka lagi. Alias ambil dulu, bayar belakangan.”

Selanjutnya, sang sekuriti bercerita bahwa gajinya sebesar 1,7 juta rupiah per bulan. Itu diperolehnya setelah kerja siang, sore, dan malam selama tujuh tahun. Gaji tersebut untuk bayar motor, kontrakan, susu anak, dan bayar segala macamnya.

“Secara dunianya, lepas aja itu tanggungan. Kayak motor. Ngapain juga ente kredit motor? Kan nggak perlu?” tanya Ust. Yusuf Mansur setelah tahu sang sekuriti tinggal di mess.

“Pengen kayak orang-orang, Pak ustadz,” ujar sekuriti.

“Yaa..., susah kalau begitu mah. Pengen kayak orang-orang, tapi motornya. Bukan ilmu dan ibadahnya. Bukan cara dan kebaikannya. Repot...”

Selanjutnya Ust. Yusuf Mansur menekankan kembali pentingnya tekad kuat sang sekuriti untuk memperbaiki shalatnya. Mulai dari tepat waktu saat shalat wajib, juga menambah amalan shalatnya dengan shalat sunnah seperti shalat taubat, shalat hajat, shalat dhuha, dan shalat tahajjudnya. Sang sekuriti pun berjanji akan melakukan semua amalan tersebut mengajak bersama istri dan anak-anaknya. Ia pun berjanji akan lebih rajin membaca Al Quran.

Mengenai sedekah, sang sekuriti masih sayang menjual motornya untuk sedekah. Uang tidak punya, apalagi emas. Tak kurang akal, Ust. Yusuf Mansur mengusulkan sang sekuriti agar menyedekahkan gajinya bulan depan alias kas bon di awal.

Di lain hari, karena benar-benar ingin merubah hidupnya, sang sekuriti yang aslinya punya gelar sarjana akuntansi ini pun memberanikan diri mengajukan kas bon ke bosnya. Alhamdulillah, dikabulkan. Hal ini disebabkan alasan sang sekuriti yang mengikuti saran Ust. Yusuf Mansur. Sang Bos dan teman-temannya ingin juga melihat bukti dari kehebatan sedekah dengan melihat perkembangan sang sekuriti selanjutnya. Jika sebelum akhir bulan hutang lagi, berarti saran dan perubahan pada sekuriti tersebut gagal.

Setelah ditunggu-tunggu, ternyata si sekuriti tidak juga datang untuk menghutang lagi. Namun, motornya tidak lagi dilihat kawan-kawannya. Apa yang terjadi?

Tadinya, si sekuriti sudah siap-siap mau kas bon lagi, karena sampai pertengahan bulan belum ada tanda-tanda keajaiban. Namun, tanpa disangka-sangka si sekuriti ketiban rejeki nomplok. Meski Cuma memediasi antara penjual dan pembeli, ia mendapat bagian dari transaksi penjualan tanah di kampungnya. Berapa yang didapatkan? 17,5 juta rupiah! 10 x lipat lebih dari yang ia sedekahkan.

Menyadari begitu dahsyatnya kehebatan sedekah, ia malu kepada Allah. Apa yang ia dapatkan sungguh di luar dugaannya. Oleh sebab itu, ia pun menjual motor kesayangannya seharga 13 juta rupiah. Ditambah dengan 12 juta dari hasil transaksi tanah, ia memberangkatkan ibunya naik haji. Sisanya yang lima juta pun menjadi bekal keperluannya sehari-hari. Dengan begitu, ia tidak perlu kas bon lagi.

Cerita sang sekuriti membuat sang Bos menjadi takjub. Dikumpulkannya para staf dan karyawan untuk mendengar penuturan langsung dari sang sekuriti.

Kisah ini bukan bercerita tentang keajaiban sedekah dan shalat semata, tetapi juga tentang keyakinan. Benar, keyakinan bahwa Allah swt yang Maha Kaya. Jika Allah swt sudah berjanji akan memberikan keberuntungan kepada hamba-Nya, ia tidak akan pernah mengingkari janji itu.

Nah, bagi Anda yang ingin naik haji tapi masih memiliki halangan, wujudkan dengan memperbaiki shalat, doa, dan sedekah kita. Dengan melaksanakan itu semua, insya Allah, niat kita naik haji akan menjadi kenyataan. (RA)
SelengkapnyaBerkat Sedekah, Sekuriti Naik Haji-kan Ibunya
Posted by: Cheria Wisata

Travel Tour Wisata Muslim Umroh Haji ONH Plus Cheria